PENDIDIKAN KARAKTER HARUS DIMULAI DARI KELUARGA Penulis : Christian Wahyu Lasut, MA., M.Th., M.Pd

IMG-20200914-WA0018

Guru Berprestasi Tingkat Nasional 2018, Penulis Buku. Dosen STTP Tomohon dan STAKAM Manado, Guru SD N Watutumou II

PENDIDIKAN karakter merupakan sebuah keharusan dan menjadi tantangan di era revolusi industri 4.0. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus mengalami kemajuan seiring dengan perkembangan zaman.

Kemajuan teknologi di era milenial terus menarik perhatian kita, dimana dalam kemajuannya melekatkan kita kepada sebuah kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Internet dan manusia seakan tidak dapat dipisahkan dalam konteks kekinian. Teknologi digital telah menjadi gaya hidup oleh sebagian besar manusia dikarenakan sebagian kebutuhan manusia terkoneksi dengan sistem yang dibangun melalui teknologi digital. Namun, ada hal yang tidak dapat digeser yaitu Pendidikan Karakter.

Teknologi tidak dapat menggantikan sebuah sentuhan kasih yang dibangun dari sebuah keluarga. Teknologi juga tidak dapat menggantikan betapa pentingnya kehadiran sebuah keluarga. Ada kebutuhan spiritual dan pendidikan karakter yang kemudian didapat dari keluarga.

Esensi keluarga merupakan sebuah kelompok terkecil yang ada dalam bagian masyarakat yang kemudian terdiri atas seorang kepala keluarga, seorang ibu, kakak dan adik. Adapun pendapat Salvicion dan Celis (1998) bahwa keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. Kehadiran keluarga merupakan wujudnyata terbangunnya interaksi serta penanaman pendidikan karakter. Pendidikan karakter terus digaungkan secara formal sejak jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menjadi solusi ampuh untuk pembentukan karakter pesertadidik.

Sjarkawi berpendapat bahwasanya: Karakter adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir. Rahardjo juga berpendapat bahwa: Pendidikan karakter adalah suatu proses pendidikan yang holistic yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai fondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Menurut Narwanti (2011:1) pembentukan adalah usaha yang telah terwujud sebagai hasil suatu tindakan. Karakter berasal dari bahasa Yunani yaitu ”kharrasein” yang berarti memahat atau mengukir (to inscribe/to engrave), sedangkan dalam bahasa Latin, karakter bermakna membedakan tanda, sifat kejiwaan, tabiat, dan watak.

Sumber: https://silabus.org/pendidikan-karakter/diakses 23/10/19/pkl 14.00.
Harapan pendidikan karakter adalah terciptanya manusia yang religius, memiliki sikap nasionalis, mandiri, hidup gotong royong dan berintegritas. Tidak hanya itu, pendidikan karakter sejalan dengan perubahan sikap sosial dan spiritual. Pembentukan karakter juga sejatinya memiliki tujuan dalam membentuk pesertadidik yang kemudian mampu berkompetisi, menjadi tangguh, berakhlak mulia, bergotong royong dan berjiwa nasionalis, toleransi, dan bermoral. Apakah pendidikan karakter yang diterapkan di lingkungan pendidikan sudah cukup? Apakah lingkungan pendidikan adalah pihak yang paling bertanggungjawab dalam pembentukan karakter? Tentu tidak!. Pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga.

Pembentukan pendidikan karakter dalam keluarga tercipta melalui 3 hal penting, yaitu: 1) visual; 2). Lisan dan; 3). Perilaku. Pendidikan karakter dalam keluarga melalui Visual: Visual merupakan menyampaian informasi dan sarana komunikasi dua arah.

Transfer karakter dapat terjadi melalui visual dan kemudian ditiru. Pendidikan karakter dalam keluarga melalui Lisan: Lisan merupakan salah satu kemampuan yang dimiliki manusia. Secara ilmiah disebut linguistic yaitu sebagai sarana komunikasi aktif dalam keluarga. Lisan memiliki peranan penting baik dari sumber pengantar maupun sumber penerima. Pendidikan karakter dalam keluarga melalui Perilaku: Menurut sumber Wikipedia perilaku adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika. Perilaku seseorang dikelompokan kedalam perilaku wajar, dan perilaku menyimpang.

Sinergitas dalam pendidikan karakter, diawali dari keluarga kemudian mendapat stimulus dalam pendidikan formal baik kognitif, afektif dan psikomotorik, kemudian kembali kepada masyarakat. Rotasi ini terus bergulir mulai dari hulu hingga ke hilir, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, dan lingkungan masyarakat. Pendidikan karakter menjadi tanggungjawab bersama yang harus dimulai dari keluarga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here