Pilkada Minsel Golkar-PDIP Habis-habisan, Mandey : MEP Masih Leading

IMG-20200914-WA0018

MINAHASA SELATAN, SorotanNews.com –— Pilkada Minsel 2020 mendatang, jadi pertarungan hidup mati sejumlah partai besar.

Golkar, PDIP yang paling berpeluang mengusung calon.

Selain karena dua partai kelas utama ini memiliki jumlah kursi memadai di DPRD. Dari sisi infrastruktur partai Golkar dan PDIP yang paling siap.

Walaupun hingga kini baru Golkarlah yang sudah menggelar penjaringan bakal calon bupati dan wakil bupati secara terbuka.

Teranyar Golkar sudah pasti menyegel pintu papan satu untuk dr Michaela Elsiana Paruntu (MEP) walau prosesnya masih sementara berjalan. Tapi, mesin partai beringin ini sudah mulai dipanaskan.

Semua kader dan simpatisan dipastikan akan bela-belain all out memenangkan MEP.

Sementara PDIP sendiri informasinya juga akan mengusung kadernya Franky Donny Wongkar.

Peluang head to head MEP-FDW bakal tersaji sengit. Sejumlah kalangan menakar adu kuat strategi Golkar-PDIP di pilkada Minsel akan bakal seru. Pertarungan gengsi partai dan harga diri. Sebab MEP merupakan adik kandung Ketua DPD I Golkar Sulut yang juga merupakan Bupati dua periode Minsel Christiany Eugenia Paruntu. Sementara FDW adalah sekretaris DPD PDIP Sulut yang juga menjabat senagi Wakil Bupati Minsel.

Anggota Fraksi PG Minsel Lian Mandey menegaskan apapun caranya Golkar akan pasang badan. Habis-habisan memenangkan pertarungan di Pilkada nanti.

Semua kedar Golkar akan bekerja keras. Memeras otak, meracik strategi, memantik simpati publik. Sebab lengah sedikit saja, kemenangan bisa dicuri lawan.

“Kemenangan itu bukan jatuh dari langit. Bukan juga lahir tanpa rahim. Tapi dia buah perjuangan dan kerja tuntas. Kalau 10 tahun ini Golkar melalui Bupati Christiany Eugenia Paruntu sudah banyak memberi diri bagi kemajuan Minsel. Maka tentu kemaslahatan ini harus juga dilanjutkan. Oleh karena itu MEP harga mati untuk kemenangan pilkada Minsel, ” ungkap Mandey kemarin.

Optimisme kemenangan MEP dan Golkar dalam pertarungan pilkada bukan tanpa sebab. Diukur dari segi manapun MEP masih leading dari kandidat lain.

Kalau menggunakan parameter pileg. Kemenangan Golkar di Minsel masih sangat konsisten. Secara linear dari tingkat pusat hingga kabupaten Golkar unggul.

“Coba dicek datanya suara pileg untuk DPR-RI di Minsel. Golkar baru AJP sendiri memcapai 42 ribuan. Sementara Partai lainĀ  dari enam calon tidak begitu siginifikan suaranya. Nah di kabupaten saja walaupun jumlah kursi sama Golkar leading selisih suara sekira lima 5 ribuan, ” sebut Mandey.

Selain itu, MEP sendiri memiliki popularitas yang tinggi.

“Kalau kita cek ke kampung-kampung MEP sudah begitu kental dikenal masyarakat luas. Apalagi di kalangan milenial. Kapasitasnya sebagai Pnt remaja tentu sangat memberi motivasi dan ketertarikan bagi generasi muda. Pun dengan PMI. Kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan yang selama ini digencarkan sangat membantu banyak kalangan, ” Tandas Mandey.

Alasan-alasan semacam itulah kata dia, pertarungan pilkada nanti. Apakah head to head atau ada tiga pasangan calon MEP masih untung.

Sementara itu pengamat politik Unsrat Dr Ferry Liando membedah ada tiga parameter bagimana mengukur pemetaan kekuatan kandidat.

Dia membedah parameter yang bisa digunakan untuk menilai kekuatan calon dapat diukur dari sejumlah variabel.

Pertama, siapa diusung oleh parpol apa. Menurutnya kelembagaan parpol akan sangat menentukan kekuatan calon.

“Jika parpolnya kuat maka bisa jadi mesin politik yang efektif. Jika parpolnya tidak solid, maka akan sangat membahayakan calon yg diusung parpol itu,” ungkap Liando.

Kedua, siapa berpasangan dengan siapa. Elektabilitas pasangan calon tidak bisa diukur hanya dari calon kepala daerahnya.

Popularitas calon wakil kepala daerah juga sangat berpengaruh. Banyak fakta yang terjadi, berdasarkan hasil survey, popularitas calon sangat tinggi.

“Namun setelah Pilkada, ternyata pasangan itu tidak banyak dipilih. Hal itu bisa jadi karena pemilih tidak tertarik dengan pasangannya. Elektabilitas pasangan calon akan kuat apabila terjadi kombinasi latar belakang. Misalnya kombinasi antar etnik daerah yang berbeda, kombinasi kelompok keagamaan atau kombinasi wilayah pemerintahan,” ulas dosen yang aktif meneliti demokrasi dan kepemiluan itu.

Yang ketiga, siapa berhadapan dengan siapa. Mengukur kekuatan pasangan calon harus dilihat siapa lawan-lawan politiknya.

Jika lawan politiknya kuat, maka ancaman bisa terjadi namun jika lawannya tidak kuat maka potensi menang bisa terjadi. (dou)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here