oleh

Dosen Unsrat Manado Ngaku Belum Terima Remunerasi Selama 5 Tahun, Begini Penjelasan Pihak Rektorat

Manado- Puluhan ribu dosen Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado, meminta agar pihak rektorat segera mencairkan remunerasi. Mereka menuntut pembayaran tunjangan kinerja (tukin) yang belum dibayarkan sejak 5 tahun lalu.


Salah satu dosen di Fakultas Hukum Unsrat, Dr Roridrio F Elias SH MH mengatakan apabila kampus pengelolaan keuangannya berstatus badan layanan umum (BLU), maka dosen harus mendapatkan remunerasi atau tunjangan kinerja (tukin). Menurut dia, tunjangan kinerja yaitu tunjangan yang diberikan berdasarkan beban tugas dosen yang berkaitan dengan tri dharma yaitu pendidikan penelitian dan pengabdian.

“Karena janji ini sudah lima tahun lalu. Jadi belum terima dari lima tahun lalu. Padahal status kita BLU tapi penerapan pengelolaan keuangan masih satker,” kata Roridrio, ketika dimintai konfirmasi, Selasa (11/1/2022).

Roridrio yang menjabat sebagai wakil dekan (Wadek) II itu menjelaskan kondisi para pengajar di fakultas hukum. Menurut dia, karena jumlah dosen dan mahasiswa tidak berimbang akibatnya satu dosen diberikan beban SKS yang lebih.

“Misalnya kita sebetulnya ada 12 SKS. Tapi sudah melampaui karena banyak mahasiswa. Kita satu angkatan bisa dapat 20 kelas paralel. Itu satu angkatan, sehingga memang dibutuhkan beban lebih kinerja,” tuturnya.

Roridrio menyatakan prinsip penyelenggaraan BLU itu pengelolaan keuangan itu diberikan secara otonom terhadap fakultas. Hanya saja praktek hari ini berbanding terbalik. Padahal PNBP itu masuknya semua di fakultas. Menurut dia, selama ini fakultas itu tidak menerima uang dan tidak mengelola uang secara langsung.

“Coba bayangkan saja, kalau kami melakukan perjalanan ke luar kami harus minta Izin, minta persetujuan. Kalau tidak disetujui yah tidak jalan. Nah sifat BLU kan terbalik, otoritas pengelolaan keuangan dan kebijakan ada di fakultas,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Rektor II Bidang Keuangan Dr Ronny Maramis menjelaskan duduk persoalannya terkait pembayaran remunerasi dosen yang hingga kini belum jalan. Menurut dia, salah satu karena usulan proposal yang diajukan beberapa tahun lalu masih dikembalikan untuk didirevisi.

“Unsrat secara institusi telah melakukan upaya penyusunan kembali proposal dan itu sudah disetujui. Tinggal menunggu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) untuk dilaksanakan,” katanya.

Maramis berharap semua dosen untuk bersabar karena pihak rektorat selama ini telah berupaya. Karena berkaitan dengan remunerasi ada sejumlah proses birokrasi yang harus diselesaikan.

“Sementara berproses itu, sudah selesai diperiksa di Kemenkeu. Sekarang tunggu SK menteri. Sudah diurus dari tahun terakhir ini. Semua sedang berproses, dibuat baru semua,” jelasnya.

Maramis optimis pembayaran remunerasi pada tahun ini sudah bisa dibayarkan kepada kurang lebih 1.700 dosen. Menurutnya, remunerasi itu dibayarkan berdasarkan dari laporan kinerja dosen
“Semua dosen belum remunerasi. Kalau turun SK kan semua dosen akan diremunerasi tergantung kinerja mereka,” katanya.

Awalnya proposal telah diusulkan oleh Unsrat. Hanya karena belum lengkap makanya dikembalikan. Menurutnya jika tahun lalu PMK sudah diterbitkan, maka sudah pasti akan ada pembayaran remunerasi dosen.
“Kalau itu jalan kami laksanakan, tahun lalu sebenarnya sudah dilaksanakan, tapi karena PMK belum ada. Kan kami membayar berdasarkan aturan kalau tidak berdasarkan aturan kena TGR,” imbuhnya.
Dia pun membeberkan semua dosen berhak mendapatkan remunerasi. Tapi pembayaran itu berdasarkan dengan kinerja. Jadi apabila ada dosen yang tidak melaksanakan kerja maka mereka pasti tidak dibayar.
“Nanti dosen mengisi laporan kinerja baru di situ dibayar dengan remunerasi di luar gaji. Jadi dosen akan terima gajinya, tunjangan fungsionalnya, kalau sudah ada sertifikasi dosen akan bertambah lagi dengan remunerasi,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *