AMURANG, SorotanNews.com — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Minahasa Selatan menggencarkan kegiatan sosialisasi pencegahan bullying (perundungan) di kalangan pelajar dengan mendatangi sekolah-sekolah secara bergilir dan rutin.

“Sosialisasi stop bullying bagi kalangan pelajar ini sebagai edukasi dalam memberikan pemahaman terkait dampak perundungan di lingkungan satuan pendidikan. Dalam sosialisasi ini kami juga rangkaian dengan sosialisasi aplikasi ayo Lapor,” kata Kepala Dinas P3A Minsel dr Erwin Schouten.
Ia menjelaskan perundungan atau bullying merupakan masalah serius yang dapat mempengaruhi kesejahteraan fisik, emosional, dan psikologis anak-anak dan remaja. Apalagi baru-baru ini baru terjadi kasus serupa di salah satu sekolah di Kecamatan Kumelembuai.
Karena itu, untuk meningkatkan kesadaran dan pencegahan terhadap fenomena perundungan di kalangan anak-anak, DP3A melakukan sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah.
Langkah ini, kata dia, merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, menghormati, dan mendukung perkembangan positif para siswa.
Kegiatan sosialisasi tersebut menyasar kalangan pelajar mulai dari siswa tingkat sekolah dasar (SD) hingga SMP Minsel.
“Sosialisasi untuk mencegah terjadinya tindakan perundungan dan tindakan kekerasan di sekolah-sekolah terus dilakukan. Kebetulan kita punya kegiatan sosialisasi aplikasi ayo Lapor yang merupakan sebuah inovasi layanan publik berbasis teknologi informasi digital jadi skalian kita sekaligus gelar sosialisasi,” katanya.
Sosialisasi ini juga menjadi tahapan awal untuk selanjutnya pihaknya mempersiapkan rencana tindak lanjut dengan membentuk tim penanganan kasus kekerasan bersama dengan pihak sekolah, dalam hal ini kepala sekolah dan guru.
“Salah satu alasan kami juga melakukan sosialisasi langsung di sekolah adalah karena kami belum pernah mendapatkan laporan perihal adanya kasus perundungan, padahal kenyataannya hal ini marak terjadi,” katanya.

Karena itu, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada banyak sekolah mulai dari jenjang SD hingga SMP.

Ia juga meminta kepada para siswa agar melaporkan apabila mengalami perundungan atau menjadi korban perundungan kepada pihak sekolah dan orang tua.
Dia berharap dengan adanya sosialisasi tersebut, lingkungan sekolah yang menyenangkan dan bebas dari kekerasan guna mendukung tumbuh kembang anak yang optimal sehat jasmani dan rohani dapat segera terwujud. (*)