AMURANG – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) kembali menekankan urgensi penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Langkah ini dinilai sebagai strategi paling efektif untuk membentengi generasi muda dari maraknya perilaku menyimpang.
Kepala Dinas DP3A Minsel, dr. Erwin Schouten, menyatakan bahwa di tengah arus informasi yang tak terbendung saat ini, kecerdasan akademik saja tidak cukup. Sekolah dan tenaga pendidik diminta untuk menempatkan pembentukan moral dan etika sebagai prioritas yang setara dengan pencapaian akademis.
“Pendidikan karakter adalah pondasi. Kita tidak hanya ingin mencetak anak-anak yang pintar secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional dan spiritual. Ini adalah kunci agar anak-anak kita jauh dari perilaku menyimpang seperti perundungan (bullying), tawuran, hingga penyalahgunaan narkoba,” tegas dr. Erwin Schouten saat ditemui kemarin.
Berdasarkan data dan kajian pendidikan, penguatan karakter di sekolah terbukti efektif menurunkan risiko delinkuensi (kenakalan) remaja.
Erwin menyoroti bahwa masa sekolah adalah fase krusial dalam pembentukan identitas diri. Tanpa panduan karakter yang kuat, anak rentan mencari pengakuan melalui cara-cara yang salah.
Lebih lanjut, Erwin menjelaskan bahwa implementasi pendidikan karakter harus bersifat integratif. Nilai-nilai seperti integritas, gotong royong, kemandirian, dan religiusitas harus disisipkan dalam setiap aktivitas belajar mengajar, bukan hanya sekadar teori di dalam kelas.
“Kami mendorong sekolah-sekolah di Minsel untuk menciptakan ekosistem yang positif. Jika karakter anak kuat, mereka akan memiliki filter alami (self-defense) untuk menolak pengaruh buruk dari lingkungan maupun media sosial,” tambahnya.
DP3A Minsel juga mengingatkan bahwa tanggung jawab ini tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Peran orang tua dan lingkungan masyarakat sangat vital dalam mendukung keberhasilan pendidikan karakter. Sinergi antara guru dan orang tua diharapkan dapat meminimalisir potensi anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan tindakan kriminal.
“Mari kita bersama-sama menjaga anak-anak Minsel. Mereka adalah aset masa depan daerah yang harus kita lindungi mental dan moralnya sejak dini,” tutup dr. Erwin Schouten. (dou)



Tinggalkan Balasan