AMURANG, SorotanNews.com– UDARA pagi di SMA Negeri 1 Amurang terasa berbeda pada Senin (9/2). Di bawah langit Minahasa Selatan, ratusan siswa, guru, dan pengurus OSIS berbaris rapi mengikuti apel pagi. Namun, di antara kerumunan itu, hadir sosok yang tidak asing bagi warga sekolah tersebut. Ia adalah Ir. Stefanus BAN Liow, MAP, anggota DPD RI/MPR RI yang datang bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan sebagai seorang alumni yang ingin “menjaga” rumah lamanya.

Senator yang akrab disapa Stefa ini kembali ke sekolah tempat ia menimba ilmu pada tahun 1983-1986 (saat itu masih bernama SMA N 162 Amurang).
Kehadirannya membawa misi penting: memerangi “tiga dosa besar” yang kian mengancam dunia pendidikan, yakni kekerasan seksual, perundungan (bullying), dan intoleransi.
Langkah kaki Senator Stefa beralih dari lapangan menuju aula sekolah.
Di hadapan para siswa dan tenaga pendidik, ia tidak berbicara dengan nada menggurui, melainkan dengan keprihatinan seorang kakak sekaligus pemimpin.
“Masalah ini bukan sekadar angka atau berita. Kekerasan dan intoleransi berdampak nyata pada psikologis anak-anak kita, merusak lingkungan belajar, dan yang paling fatal, bisa menghancurkan masa depan mereka,” tegas Stefa dengan raut wajah serius.
Bagi Stefa, benteng terkuat untuk menghadapi degradasi moral ini bukanlah sekadar aturan tertulis, melainkan penghayatan terhadap Empat Pilar MPR RI.
Ia menjelaskan secara gamblang bagaimana Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika seharusnya menjadi “kompas” dalam berperilaku di sekolah.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat sejak pukul 07.00 hingga 10.00 WITA tersebut, Stefa menekankan bahwa pemahaman nilai-nilai kebangsaan harus dibarengi dengan tindakan nyata.
-
Pencegahan: Melalui edukasi dan sosialisasi yang masif di lingkungan sekolah.
-
Penegakan: Langkah tegas hingga ke ranah hukum jika terjadi pelanggaran yang mencederai fisik dan mental siswa.
“Dengan merefleksikan nilai Pancasila, tantangan kebangsaan—termasuk perundungan—pasti bisa kita atasi bersama,” tambahnya.
Kegiatan ini pun mendapat apresiasi penuh dari pihak sekolah dan otoritas pendidikan setempat.
Hadir mendampingi sang Senator, Kepala Sekolah SMAN 1 Amurang, Swingly Liow, S.Pd, serta Kepala Cabang Pendidikan Daerah Minsel-Mitra, Ary Toloh, SE, bersama Kasie Fanny Sondakh.
Bagi para siswa, kehadiran alumni sukses seperti Senator Stefa menjadi bukti bahwa sekolah adalah tempat menyemai mimpi, bukan tempat menanam ketakutan.
Sosialisasi ini ditutup dengan harapan besar: agar SMAN 1 Amurang tetap menjadi ruang aman bagi setiap anak untuk bertumbuh, merdeka dari kekerasan, dan kokoh dalam toleransi. (dou)



Tinggalkan Balasan