Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, tidak datang dengan protokol yang kaku. Didampingi istri tercinta, Ibu Anik Yulius Selvanus, kehadirannya di tengah masyarakat Kotamobagu pada Selasa (10/3/2026) terasa seperti kepulangan seorang kakak ke rumah kerabat jauh.

Bagi Sang Jenderal bintang dua, Safari Ramadhan tahun ini bukan sekadar agenda tahunan yang dicentang dalam kalender kerja. Di hadapan Walikota dr. Weny Gaib dan Wakil Walikota Rendy Mangkat, Yulius berbicara dengan nada yang tenang namun bertenaga.
“Momentum ini adalah sarana sakral,” ujarnya. “Bukan sekadar formalitas, tapi tempat kita memperkuat tali persaudaraan di tengah keberagaman yang kita miliki.” Ungkap Gubernur.
Ia memotret Ramadhan sebagai “kawah candradimuka” bagi disiplin, kesabaran, dan kejujuran. Baginya, jika rakyat dan pemerintah sudah jujur dan disiplin, kemajuan Sulawesi Utara bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah kepastian.
Keamanan: Fondasi yang Tak Bisa Ditawar
Sebagai sosok dengan latar belakang militer yang kuat, pesan Yulius mengenai stabilitas daerah terdengar sangat tegas. Ia menyebut keamanan sebagai “Harga Mati”.
Logikanya sederhana namun tajam:
-
Tanpa keamanan, investasi akan lari.
-
Tanpa stabilitas, ekonomi akan lumpuh.
-
Dan akhirnya, kesejahteraan rakyatlah yang menjadi taruhannya.
“Stabilitas adalah syarat mutlak agar pembangunan bisa berjalan maksimal,” tegasnya, mengingatkan bahwa kedamaian yang dinikmati hari ini adalah aset termahal milik warga Kotamobagu.
Di sisa hari-hari suci Ramadhan 1447 Hijriah ini, Yulius menitipkan sebuah warisan berharga: semangat Torang Samua Basudara. Ia meminta masyarakat untuk tidak mudah goyah oleh embusan provokasi yang berusaha merobek tenunan toleransi yang sudah lama dijahit di Bumi Nyiur Melambai.
Acara sore itu ditutup dengan momen menyentuh saat Gubernur menyerahkan sejumlah bantuan bagi masyarakat. Bukan sekadar bantuan materi, tapi simbol bahwa pemerintah hadir di garis depan untuk peduli.
Saat azan berkumandang, petanda buka puasa dimulai, sekat antara pejabat dan rakyat pun luruh dalam doa yang sama. Di Kotamobagu, Gubernur Yulius tidak hanya berbagi takjil, tapi juga berbagi keyakinan bahwa Sulawesi Utara akan tetap kokoh selama kejujuran dan keamanan tetap dijaga bersama. (*)



Tinggalkan Balasan