MANADO, SorotanNews.com — Ruang pelantikan di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Jumat (13/3/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni baris-berbaris dan pembacaan sumpah, namun ada pesan tajam sekaligus menyentuh yang ditinggalkan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus.

Di samping Wakil Gubernur DR J. Victor Mailangkay, Gubernur Yulius menatap lurus ke arah dua wajah baru yang kini memikul beban berat di pundak mereka: Salman Mokoginta dan Jerry Kanalung.

Bagi Gubernur Yulius, birokrasi bukanlah proyek bangunan yang harus dipelototi setiap detiknya agar tidak miring. Dengan gaya kepemimpinan yang lugas namun penuh kepercayaan, ia menegaskan bahwa profesionalisme adalah harga mati.

“Dalam bekerja, jangan mau dimandori. Tidak perlu harus selalu diawasi atau dinilai. Fokuslah bekerja dan berikan yang terbaik untuk masyarakat,” tegas Gubernur dengan nada mantap.

Pesan ini seolah menjadi “tamparan” halus sekaligus motivasi bagi para pejabat. Di bawah kepemimpinannya, ia menginginkan mesin pemerintah yang bergerak mandiri—sebuah sistem di mana integritas menjadi pengawas paling jujur bagi diri sendiri.

Dua sektor krusial kini memiliki nakhoda baru. Salman Mokoginta, yang membawa segudang pengalaman dari Direktorat PSDP, kini resmi menjabat sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP).

Di tangannya, potensi maritim Bumi Nyiur Melambai diharapkan tak sekadar jadi angka statistik, tapi jadi berkat nyata bagi nelayan.

Sementara itu, Jerry Kanalung dipercaya mengisi kursi panas sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ).

Sebuah posisi yang menuntut transparansi mutlak dan ketelitian tinggi agar tata kelola pemerintahan tetap berada di jalur yang benar.

Filosofi Spiritual: Belajar dari Burung di Udara

Menariknya, suasana formal tersebut mendadak berubah menjadi reflektif ketika Gubernur Yulius mulai menyentuh aspek spiritual. Baginya, jabatan bukan sekadar urusan administrasi negara, melainkan urusan hamba dengan Sang Pencipta.

Ia menyitir sebuah perumpamaan yang menyentuh nurani:

“Setiap langkah mintalah arahan Tuhan. Seperti burung di udara yang dipelihara Tuhan, maka pengabdian yang tulus pun pasti akan membawa kesejahteraan,” tuturnya.

Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh pejabat eselon yang hadir, bahwa setinggi apa pun jabatan yang diraih, ada “tangan” yang lebih besar yang mengatur segalanya. Integritas tanpa syarat bukan hanya tentang patuh pada aturan, tapi tentang takut pada Tuhan.

Momentum pelantikan ini bukan sekadar penyegaran struktur. Ini adalah sinyal bahwa Sulawesi Utara sedang memacu gas untuk akselerasi program strategis. Dengan semangat baru di DKP dan Biro PBJ, masyarakat menanti bukti nyata dari komitmen “bekerja tanpa mandor” tersebut.

Salman dan Jerry tidak hanya membawa pulang SK (Surat Keputusan), tetapi juga membawa pulang filosofi tentang pengabdian yang tulus—sebuah janji untuk melayani masyarakat Sulut dengan tuntunan Tuhan dan integritas yang tak tergoyahkan. (dou)