Oleh: Douglas Panit 

MANADO, SorotanNews.com — Tanggal 5 Maret lalu, suasana di pusat pemerintahan Provinsi Sulawesi Utara terasa berbeda. Tidak ada sekadar perayaan formalitas yang kaku. Hari itu, genap 365 hari Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Dr. J. Victor Mailangkay, SH, MH—yang akrab disapa duet YSK-Victory—menakhodai bumi Nyiur Melambai.

Momen syukuran tersebut bukan sekadar seremoni pergantian kalender jabatan, melainkan sebuah jeda sejenak untuk menengok ke belakang; melihat fondasi apa yang telah ditanam untuk menyangga bangunan Sulawesi Utara hingga tahun 2029 mendatang.

Di balik mimbar, Gubernur Yulius berdiri dengan pembawaan khasnya: hangat, namun memancarkan ketegasan. Alih-alih membombardir hadirin dengan deretan angka statistik atau persentase capaian teknis yang kerap kali terasa berjarak dari realitas akar rumput, ia memilih berbicara dari hati. Baginya, angka di atas kertas tidak akan bermakna jika tidak selaras dengan piring nasi di meja makan warga.

“Pembangunan setahun terakhir ini ibarat sebuah simpul yang saling terikat,” tutur Gubernur Yulius, mengilustrasikan filosofi kerjanya. Maknanya dalam: deru mesin pembangunan infrastruktur raksasa tidak boleh menenggelamkan denyut nadi ekonomi mikro di pasar-pasar tradisional. Keduanya harus berjalan seirama.

Jika diamati lebih dekat, daya tarik utama dari kepemimpinan YSK-Victory justru terletak pada latar belakang mereka yang kontras. Gubernur Yulius membawa kultur militer yang kental—mengedepankan disiplin baja, instruksi yang jelas, dan eksekusi yang terukur. Di sisi lain, Wakil Gubernur Victor Mailangkay adalah figur yang matang ditempa oleh dialektika dunia hukum dan politik.

Keduanya adalah dua warna yang berbeda. Namun, alih-alih berbenturan, keduanya membuktikan bahwa perbedaan tersebut bisa diracik menjadi sebuah tarian kepemimpinan yang harmonis. Mereka meleburkan ego masing-masing, terus belajar untuk menjaga ritme, dan menempatkan kepentingan rakyat sebagai dirigen utamanya.

“Satu tahun ini hanyalah fondasi awal. Tantangan ke depan akan jauh lebih berat dan dinamis,” ucap Yulius dengan nada optimis.

Optimisme itu dibarengi dengan peringatan keras. Di hadapan seluruh jajaran Pemerintah Provinsi, Gubernur kembali menegaskan aturan main yang tidak bisa ditawar: Integritas. Di bawah panji “Satu Komando”, ia menginstruksikan seluruh aparatur untuk menjauhi praktik korupsi sekecil apa pun.

“Pegang teguh niat baik dan pastikan melalui proses yang benar. Tidak boleh ada jalan pintas yang merusak tatanan,” tegasnya. Pesan ini bukan sekadar retorika, melainkan cambuk bagi birokrasi agar terus berjalan lurus.

Namun, ketegasan itu diimbangi dengan kelembutan pendekatan kultural. Gubernur Yulius tahu betul bahwa membangun Sulawesi Utara tidak bisa hanya mengandalkan palu birokrasi. Ia menyentuh ruh masyarakat Minahasa dengan membangkitkan kembali semangat Mapalus—tradisi gotong royong warisan leluhur.

Sulawesi Utara telah lama dikenal sebagai “laboratorium toleransi” di Indonesia. Bagi YSK-Victory, predikat itu harus terus dirawat. Pembangunan gedung pencakar langit atau jalan tol tidak akan bisa dinikmati dengan tenang jika rasa aman dan damai di tengah keberagaman masyarakat terkoyak.

Satu tahun berlalu, fondasi telah diletakkan. Simpul telah diikat. Kini, masyarakat Sulawesi Utara menanti dengan penuh asa, melihat bagaimana duet militer dan politisi ini terus merajut benang-benang kebijakan menjadi selimut kesejahteraan yang nyata bagi seluruh warga, selangkah demi selangkah, dalam satu komando. (dou/ADV*)