MANADO, SorotanNews.com – Riuh tepuk tangan sesekali memecah keheningan Ruang Rapat Paripurna DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Rabu (25/3). Di podium, Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, berdiri tegak memaparkan lembar demi lembar Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025. Namun, ini bukan sekadar urusan angka dan neraca; ini adalah potret janji yang mulai berwujud.
Bagi sang purnawirawan jenderal, tahun 2025 bukan sekadar periode kalender, melainkan sebuah “pondasi peradaban”.
Dalam gaya bicara yang lugas namun penuh visi, Yulius menegaskan bahwa setiap rupiah yang keluar dari kas daerah harus menjadi napas bagi kesejahteraan rakyat.
Salah satu capaian yang paling menyentuh sisi humanis dalam laporan tersebut adalah hadirnya “terang” di wilayah kepulauan. Jika sebelumnya listrik di perbatasan sering kali menjadi kemewahan yang timbul tenggelam, tahun 2025 mencatatkan sejarah: enam pulau di Sulawesi Utara kini menikmati layanan listrik 1×24 jam.
“Ini adalah bentuk keadilan sosial. Tidak boleh ada anak daerah yang belajarnya terhambat karena lampu padam, atau nelayan yang kesulitan menyimpan hasil tangkap karena ketiadaan daya,” tutur Gubernur Yulius di hadapan pimpinan dan anggota DPRD.
Keadilan ini pun merambah sektor pendidikan. Kehadiran SMA Taruna Nusantara di Langowan serta revitalisasi 50 sekolah di pelosok menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan kini tak lagi tersentralisasi di jantung kota, melainkan menyebar hingga ke kaki gunung dan bibir pantai. Secara administratif, performa keuangan Pemprov Sulut berada pada tren positif. Dari target pendapatan sebesar Rp3,78 triliun, pemerintah berhasil mengamankan realisasi sebesar 96,38 persen. Menariknya, realisasi belanja yang menyentuh 91,36% dilakukan dengan strategi “ikat pinggang” pada pos non-prioritas demi memberikan stimulus ekonomi langsung ke masyarakat.
Di sektor konektivitas, Sulawesi Utara semakin mantap menatap dunia. Pembukaan rute internasional Seoul-Manado dan Taipei-Manado bukan sekadar urusan pariwisata, melainkan ambisi menjadikan Bumi Nyiur Melambai sebagai hub logistik global yang disegani di Pasifik.
Semangat Petarung dan Sinergitas
Meski tantangan fiskal dan dinamika global membayangi, Yulius tetap optimis. Ia membawa semangat “Satu Komando” ke dalam birokrasi—sebuah prinsip ketegasan untuk memastikan seluruh jajaran bekerja dengan integritas tinggi dan bebas dari kepentingan personal.
Gerakan Pangan Murah di 190 titik serta optimalisasi 2.000 hektare lahan padi menjadi bukti konkret bahwa perut rakyat adalah prioritas utama. Di akhir pidatonya, ia memberikan apresiasi mendalam kepada Ketua DPRD dr. Fransiscus Andi Silangen, Wakil Gubernur Victor Mailangkay, serta unsur Forkopimda.
Rapat Paripurna hari itu ditutup dengan sebuah optimisme: bahwa Sulawesi Utara sedang bergerak melakukan lompatan besar, bukan sekadar jalan di tempat. (dou)



Tinggalkan Balasan