MANADO– Gemuruh putaran nasional Liga 4 sudah di depan mata. Sulawesi Utara, yang sukses mengunci dua slot berkat inisiatif strategis Gubernur YSK untuk menyertakan Bolsel FC mendampingi sang jawara Persma 1960, kini tengah mematangkan mesin perangnya. Namun, di tengah persiapan teknis, sebuah kabar burung berhembus kencang dari markas tim “Badai Biru”.
Persma 1960 dikabarkan sedang melirik dua pilar utama Persminsel FC untuk bergabung dalam misi promosi mereka ke kasta yang lebih tinggi.
Langkah manajemen Persma ini sebenarnya tidak mengejutkan bagi mereka yang mengikuti dinamika Liga 4 Sulut musim ini. Meski Persminsel harus puas finis di posisi keempat setelah drama adu penalti yang menyesakkan melawan KJS, identitas permainan mereka meninggalkan impresi mendalam.
Persminsel hadir dengan materi Local Pride yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Di lapangan, mereka bukan sekadar menendang bola; mereka menghidupkan filosofi Mati Tanam. Sebuah semangat juang pantang menyerah, bertarung hingga peluit akhir, dan ketangguhan fisik yang menjadi ciri khas talenta Minahasa Selatan. Inilah yang diyakini menjadi alasan kuat mengapa manajemen Persma ingin menyuntikkan “darah petarung” tersebut ke dalam skuad mereka.
Teka-teki mengenai perpindahan pemain ini mulai menemui titik terang. Saat dikonfirmasi, Head Coach Persminsel tidak menampik adanya ketertarikan dari sang jawara Sulut tersebut.
“Iya, sudah ada komunikasi awal. Manajemen Persma memang berencana mengambil dua pemain kami untuk memperkuat skuad mereka di putaran nasional,” ujarnya singkat saat dihubungi redaksi.
Namun, sang pelatih masih menutup rapat identitas kedua pemain yang dimaksud. Ia menegaskan bahwa segala sesuatunya masih dalam tahap pembicaraan profesional antarmanajemen.
“Kami masih dalam proses komunikasi. Sabar saja, nanti pada waktunya akan segera dipublikasikan kepada masyarakat. Prinsipnya kami siap mendukung dan mempertebal kekuatan untuk Persma 1960 sebagai utusan Sulut” tambahnya.
Langkah Persma mengambil pemain dari tim rival lokal merupakan strategi lazim dalam sepak bola modern, terutama saat menghadapi kompetisi nasional yang lebih menguras energi dan mental. Kehadiran duo Persminsel diharapkan mampu menambah kedalaman skuad Persma 1960, sekaligus membawa karakter disiplin dan militansi yang menjadi DNA pemain Minsel.
Kini, publik sepak bola di Sulawesi Utara tinggal menunggu waktu. Siapakah dua sosok “petarung” yang akan menanggalkan seragam Persminsel demi mengusung panji Sulawesi Utara di kancah nasional bersama Persma 1960?
Satu yang pasti, jika kesepakatan ini terwujud, Persma tidak hanya mendapatkan tambahan skill, tetapi juga semangat “Mati Tanam” yang siap meledak di putaran nasional nanti. (Roki)



Tinggalkan Balasan