MANADO, SorotanNews.com–Ada kehangatan yang berbeda di halaman Kantor Gubernur Sulawesi Utara, Jumat malam (20/3). Di tengah barisan 300 kendaraan yang berhias cahaya, Gubernur YSK menatap bangga pada kerumunan yang tumpah ruah. Malam itu, pawai takbiran bukan lagi sekadar iring-iringan mesin, melainkan potret besar tentang kerukunan yang mendarah daging di tanah Sulawesi Utara, dirayakan dengan doa dan sukacita yang meluap.

Di bawah lampu kota yang berpijar, suara takbir mulai bersahut-sahutan, memecah kesunyian malam di Bumi Nyiur Melambai.

Wajah Gubernur YSK tampak gembira. Ini adalah kali kedua baginya melepas langsung Pawai Malam Takbiran sejak menjabat, dan ia tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

Antusiasme tahun ini disebut-sebut sebagai yang terbesar dalam sejarah baru-baru ini.

“Semangat kebersamaan ini harus terus kita jaga. Menurut saya, ini yang terbanyak,” ujar YSK sembari menatap iring-iringan kendaraan yang memadati area kantor gubernur.

Sebanyak 300 kendaraan roda empat berjajar rapi. Di antaranya, enam kendaraan hias mencuri perhatian dengan lampu-lampu dekoratif yang membentuk replika masjid dan simbol-simbol Islami yang megah.

Demi menjaga kekhidmatan dan keamanan, panitia memang membatasi peserta; tak ada deru mesin roda dua maupun mikrolet di dalam barisan, menciptakan harmoni suara yang lebih jernih bagi lantunan takbir.

Bagi Gubernur YSK, kemeriahan ini bukan hanya soal parade mesin dan hiasan. Ia melihatnya sebagai potret besar kerukunan antarumat beragama di Sulawesi Utara yang sudah mendarah daging. Di tengah keriuhan, ia menyelipkan pesan yang menyentuh nurani.

“Malam ini adalah kebahagiaan, di mana kita semua telah memenangkan diri usai berpuasa. Atas nama Pemerintah Provinsi, saya mengucapkan selamat atas kemenangan ini,” tuturnya dengan nada hangat.

Namun, di balik sukacita itu, YSK juga mengajak warganya untuk sejenak menundukkan kepala. Ia mengingatkan bahwa di sudut lain, ada saudara-saudara yang sedang berjuang bangkit dari sisa-sisa bencana. Ia menitipkan doa agar pemulihan bagi daerah-daerah terdampak segera terwujud.

Saat bendera dilepas, iring-iringan kendaraan perlahan bergerak membelah malam. Suara takbir yang menggema dari pengeras suara kendaraan hias menciptakan atmosfer yang magis—sebuah transisi dari perjuangan menahan lapar dan dahaga menuju fajar Idul Fitri yang suci.

Malam ini, Manado tidak hanya bising oleh suara, tapi bergetar oleh rasa syukur. Pawai takbiran ini menjadi saksi bahwa di bawah kepemimpinan YSK, tradisi tetap terjaga, kerukunan tetap kokoh, dan kemenangan dirayakan dengan penuh kepedulian. (dou)