MANADO, SorotanNews.comRiuh rendah dukungan suporter di pinggir lapangan hijau Sulawesi Utara tampaknya harus disimpan sedikit lebih lama. Panggung puncak yang sedianya digelar pada tengah April ini mengalami pergeseran jadwal. Namun, bagi para pecinta sepak bola di Bumi Nyiur Melambai, penundaan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah “napas panjang” menuju klimaks yang lebih berkualitas.

Berdasarkan hasil kesepakatan dalam Match Coordination Meeting (MCM) yang berlangsung di Hotel Rogers Manado, Minggu (12/4), panitia pelaksana resmi memutuskan untuk menggeser jadwal perebutan juara ketiga dan partai final Liga 4 Indonesia Piala Gubernur Sulut.

Laga yang semula dijadwalkan mentas pada 13-14 April 2026, kini harus dijadwal ulang demi kesiapan yang lebih matang.

Liga 4 Sulut, DR Fiko Onga, menjelaskan bahwa keputusan ini tidak diambil secara sepihak. Ada pertimbangan teknis dan non-teknis yang menjadi prioritas agar partai penutup kompetisi kasta keempat ini tidak hanya sekadar berjalan, tapi benar-benar memuaskan semua pihak.

“Penundaan ini merupakan hasil keputusan bersama dalam MCM. Kami ingin memastikan seluruh aspek, mulai dari kesiapan lapangan hingga perangkat pertandingan, berjalan maksimal,” ujar Fico dengan nada optimis saat ditemui di Manado, Senin (13/4).

Bagi tim yang bertanding, jeda waktu tambahan ini bak oase di tengah padatnya jadwal kompetisi. Persminsel dan Klabat XIII Jaya Sakti kini memiliki waktu ekstra untuk meramu strategi terbaik demi merebut tempat ketiga pada 19 April mendatang.

Menanti Jawara di Puncak Laga

Puncaknya, pada 20 April 2026, seluruh mata akan tertuju pada duel klasik antara dua kekuatan besar: Persma 1960 Manado melawan Bolsel FC. Laga final ini bukan sekadar perebutan trofi, melainkan pembuktian gengsi daerah di kancah sepak bola Sulawesi Utara.

Bagi Persma 1960, ini adalah momentum mengembalikan kejayaan nama besar mereka di ibu kota. Sementara bagi Bolsel FC, melangkah ke final adalah bukti bahwa kekuatan sepak bola di Sulut kini mulai merata ke arah selatan.

Meski jadwal bergeser, atmosfer di kalangan suporter justru semakin memanas. Di kedai-kedai kopi hingga media sosial, prediksi skor dan analisis taktik mulai bermunculan. Penundaan ini justru memberi ruang bagi narasi-narasi rivalitas untuk tumbuh lebih kuat.

Kini, bola sedang berhenti sejenak. Namun, ketika peluit pertama dibunyikan pada tanggal 19 dan 20 April nanti, bisa dipastikan Sulawesi Utara akan menyaksikan sebuah klimaks kompetisi yang lebih bertenaga dan berkualitas. (dou)