MANADO,SorotanNews.comDi balik riuh rendah pasar tradisional dan aroma bumbu dapur yang menyeruak dari deretan rumah makan di sudut-sudut Sulawesi Utara, tersimpan sebuah narasi optimisme. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut yang dirilis Mei 2026 ini, ekonomi Bumi Nyiur Melambai bukan sekadar bertahan, melainkan sedang berlari.

Catatan pertumbuhannya mencapai 5,54 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas; ia adalah potret resiliensi sebuah daerah yang berhasil melampaui rata-rata pertumbuhan nasional yang berada di angka 5,05 persen.

Jika Anda bertanya apa mesin utama di balik angka impresif ini, jawabannya ada pada piring-piring makanan dan kamar-kamar hotel yang kembali terisi. Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum melesat bak roket dengan pertumbuhan 20,85 persen.

Ada tiga aktor utama di balik fenomena ini:

  • Magnet Pariwisata: Arus wisatawan mancanegara dan nusantara kian deras membanjiri destinasi unggulan Sulut.

  • Berkah Hari Raya: Rentetan momentum besar seperti Imlek, Nyepi, hingga syahdunya Ramadan dan Idul Fitri menjadi pemantik konsumsi masyarakat yang luar biasa.

  • Efek “Makan Bergizi”: Perluasan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti menjadi suntikan vitamin bagi para penyedia jasa makanan lokal, dari skala kecil hingga menengah.

“Ekonomi kita mencapai besaran PDRB Rp 51,67 triliun atas dasar harga berlaku. Ini membuktikan bahwa daya beli dan perputaran uang di masyarakat tetap terjaga solid,” tulis laporan BPS tersebut.

Belanja Pemerintah sebagai Penopang

Dari sisi pengeluaran, pemerintah daerah rupanya tidak tinggal diam. Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh 7,89 persen. Angka ini didorong oleh akselerasi belanja APBD dan APBN untuk program-program prioritas. Tak ketinggalan, cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para ASN di awal tahun turut menjadi pelumas bagi roda ekonomi yang sempat melambat di beberapa sektor.

Namun, layaknya musim yang berganti, ekonomi pun memiliki siklusnya. Secara triwulanan (quarter-to-quarter), Sulawesi Utara mencatatkan kontraksi sebesar 8,02 persen dibandingkan akhir tahun 2025.

Para pakar menyebut ini sebagai “fenomena awal tahun” yang lumrah. Aktivitas konstruksi dan pertambangan biasanya melakukan penyesuaian operasional di awal tahun, bertepatan dengan masa transisi anggaran baru. Ini adalah jeda napas yang biasa sebelum kembali memacu kecepatan di triwulan berikutnya.

Dengan capaian di atas rata-rata nasional, Sulawesi Utara semakin mengukuhkan posisinya sebagai “pintu gerbang” ekonomi di wilayah Timur Indonesia. Pemerintah Provinsi kini memikul mandat besar: menjaga momentum.

Fokus ke depan sudah dipetakan—memperkuat sektor pariwisata agar tidak hanya musiman, mendukung ketahanan pangan, dan memastikan belanja daerah langsung menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat. Di bawah langit Sulawesi Utara yang cerah, angka 5,54 persen adalah janji bahwa kesejahteraan bukan sekadar angka, melainkan kerja nyata yang an  diupayakan. Uniknya lagi inflasi tetap terkendali dan dalam posisi amana jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang rupanya kian tak terkendali. (dou)