AMURANG, SorotanNews.com — Pagi itu, mentari bulan Juni baru saja meninggi di ufuk Minahasa Selatan (Minsel). Di saat sebagian besar warga memulai rutinitas harian mereka, sebuah tim kecil yang terdiri dari jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Minahasa Selatan bersama sejumlah stakeholder terkait, bersiap masuk ke dalam jantung aktivitas industri.

Bukan untuk sekadar berkunjung, melainkan untuk sebuah misi krusial: memastikan bahwa roda ekonomi yang berputar di tanah Minsel tidak mengorbankan napas kelestarian alamnya.

Langkah kaki mereka tertuju pada empat titik vital yang menjadi pilar usaha di wilayah tersebut. Mulai dari kepulan aktivitas di PLTU, hiruk-pikuk operasional PT Nichindo, kesibukan di SPPG, hingga keanggunan akomodasi di Villa Sutan Raja. Rangkaian visitasi ini menjadi bagian dari agenda besar Program Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan yang rutin digulirkan.

“Kami tidak sedang mencari-cari kesalahan, melainkan membangun kesadaran kolektif,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Minsel, Roi Sumangkut, di sela-sela pemantauan.

Bukan Sekadar Menilai, Tapi Membina

Aktivitas pemantauan dan pengawasan ini dilakukan secara menyeluruh. Di setiap lokasi, tim memeriksa dengan teliti bagaimana tata kelola limbah dijalankan, bagaimana emisi ditekan, serta sejauh mana komitmen hijau yang tertuang dalam dokumen lingkungan diimplementasikan dalam realitas sehari-hari.

Menurut Roi Sumangkut, tantangan terbesar dalam menjaga lingkungan hidup di sektor industri adalah menyelaraskan antara target bisnis dan tanggung jawab ekologis. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan DLH Minsel kali ini lebih bersifat persuasif namun tetap tegas.

Kepala Dinas LH Minsel, Roi Sumangkut menjelaskan lebih detail mengenai esensi dari program bulan Juni ini:

  • Sinergi Sektor Energi (PLTU & SPPG): “Untuk sektor energi seperti PLTU dan SPPG, fokus kami adalah memastikan sistem filtrasi emisi udara dan pengelolaan limbah operasional berjalan optimal. Kita butuh energi, tapi masyarakat juga berhak atas udara yang bersih.”

  • Pengolahan Limbah Industri (Nichindo): “Di Nichindo, kami memantau ketat bagaimana sistem pengolahan limbah cair dan padat mereka. Industri pengolahan harus memastikan tidak ada residu berbahaya yang lolos dan mencemari ekosistem sekitar.”

  • Sektor Pariwisata & Jasa (Villa Sutan Raja): “Beralih ke sektor jasa seperti Villa Sutan Raja, aspek yang kami tekankan adalah pengelolaan limbah domestik dan domestik cair. Pariwisata yang maju adalah pariwisata yang ramah lingkungan dan mampu menjaga estetika alamnya.”

Komitmen Bersama untuk Masa Depan

Visitasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) ini membuktikan bahwa urusan lingkungan bukan hanya menjadi beban pemerintah semata. Ini adalah kerja kolaboratif. Kehadiran para mitra kerja di lapangan ikut memberikan sudut pandang yang lebih kaya dalam merumuskan solusi atas kendala-kendala lingkungan yang dihadapi para pelaku usaha.

Di akhir kegiatannya, Roi Sumangkut kembali menegaskan bahwa pengawasan berkala pada bulan Juni ini bukanlah akhir dari program. Justru, ini adalah pemantik bagi para pelaku usaha untuk terus berinovasi dalam mempraktikkan green business.

“Hasil dari pemantauan di empat titik ini akan menjadi rapor sekaligus bahan evaluasi kami bersama pihak manajemen perusahaan. Kami mengapresiasi pihak-pihak yang sudah patuh, dan kami akan terus mendampingi mereka yang masih perlu pembenahan. Karena pada akhirnya, alam Minahasa Selatan yang lestari adalah warisan terbaik untuk anak cucu kita nanti,” pungkas Roi dengan nada optimis.

Seiring berjalannya hari, tim DLH pun menyudahi kunjungan mereka. Namun, denyut pengawasan tidak akan berhenti di situ, demi memastikan Minsel tetap tumbuh, tanpa harus kehilangan hijaunya. (ADV)