Progresivitas & Transformasi Pendidikan di Indonesia Melalui Program Merdeka Belajar, Guru Penggerak, dan Sekolah Penggerak

Oleh : Christian Wahyu Lasut, MA., M.Th., M.Pd. Penulis merupakan juara II Tingkat Nasional Lomba Kreativitas Guru di Universitas Negeri Malang, Finalis Gupres Tingkat Nasional 2018. Dosen di Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado, dan Dosen di Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon.

MENTRI Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang akrab disapa dengan sebutan Mas Menteri, terus melakukan terobosan yang penting dalam dunia pendidikan. Mas Menteri mengatakan untuk mengatasi sekolah yang sulit melakukan PJJ yaitu dengan melakukan sekolah tatap muka. Untuk pelaksanaan tatap muka yang perlu diperhatikan adalah dengan mendapat izin dari tiga pihak, yaitu: Pemerintah Daerah, kepala Sekolah, dan orang tua murid melalui komite sekolah. Program Merdeka Belajar menjadi oase bagi pendidikan dimasa pandemic covid-19.


Progresivitas dan Transformasi Pertama; adalah Merdeka Belajar. Pada episode pertama, menghapus Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), mengganti Ujian Nasional (UN), penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan mengatur kembali Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Selanjutnya, pada Merdeka Belajar Episode Kedua yaitu Kampus Merdeka. Episode Ketiga, Kemendikbud mengubah mekanisme dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk tahun anggaran 2020. Episode Keempat yaitu Program Organisasi Penggerak (POP). Episode Kelima: Guru Penggerak. Episode Keenam: Transformasi Dana Pemerintah untuk Pendidikan Tinggi yang diresmikan Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo. Episode Ketujuh: Program Sekolah Penggerak.


Pendidikan di Indonesia mengalami progresivitas dan transformasi melalui Program Merdeka Belajar yang saat ini terdapat delapan prioritas.

  1. KIP Kuliah dan KIP Sekolah Pembiayaan pendidikan;
  2. Digitalisasi Sekolah dan Medium Pembelajaran melalui empat sistem penguatan platform digital;
  3. Pembinaan Peserta Didik, Prestasi, Talenta, dan Penguatan Karakter Prioritas ini akan diciptakan melalui tiga layanan pendampingan advokasi dan sosialisasi penguatan karakter;
  4. Guru Penggerak;
  5. Kurikulum dan Asesmen Nasional;
  6. Revitalisasi Pendidikan Vokasi;
  7. Kampus Merdeka Prioritas;
  8. Pemajuan Kebudayaan dan Bahasa, akan memberikan apresiasi dan peningkatan SDM.
    Progresivitas dan Transformasi Kedua; adalah Pendidikan Guru Penggerak. Program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan Pendampingan selama 9 bulan bagi calon Guru Penggerak. Selama program, guru tetap menjalankan tugas mengajarnya sebagai guru. Program  Guru Penggerak bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih berkualitas. Pembelajaran tersebut terfokus pada siswa dengan menggerakkan ekosistem pembelajaran yang lebih baik.
    Progresivitas dan Transformasi Ketiga; Program Sekolah Penggerak merupakan penyempurnaan dari program sebelumnya terkait transformasi sekolah. Program Sekolah Penggerak yang di luncurkan pada 1 Februari 2021 untuk mewujudkan SDM unggul untuk Indonesia Maju, kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, dalam peluncuran sekolah penggerak secara daring Senin 1 Februari 2021. Program ini adalah upaya untuk mewujudkan visi Pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Program Sekolah Penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter, diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru). Program Sekolah Penggerak merupakan penyempurnaan program transformasi sekolah sebelumnya. Program Sekolah Penggerak akan mengakselerasi sekolah Negeri/Swasta di seluruh kondisi sekolah untuk bergerak 1-2 tahap lebih maju. Program dilakukan bertahap dan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi sekolah penggerak.
    Catatan dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat, peringkat Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 berada dalam urutan bawah. PISA sendiri merupakan metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa Indonesia di tingkat global. Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 – 15 tahun terakhir. Sebagai langkah memperbaiki nilai PISA Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyiapkan lima strategi untuk menjalankan pembelajaran holistik demi mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul.

5 strategi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim
Kepala Sekolah di pilih dari guru – guru terbaik;
Mencetak generasi guru “ baru”;
Menyederhanakan kurikulum;
AKM sebagai pengganti Ujian Nasional;
Platform teknologi pendidikan berbasis Mobile.
https://edukasi.kompas.com/Kompas.com dengan judul “Nilai PISA Siswa Indonesia Rendah, Nadiem Siapkan 5 Strategi Ini” diakses 13/3/21 pkl 21.50
Lompatan kemajuan pendidikan di Indonesia mulai dapat dirasakan baik guru, siswa, dan sekolah. Kepedulian pemerintah terhadap pendidikan di Indonesia dapat terlihat bagaimana pemerintah mengejawantahkan program merdeka belajar, guru penggerak, dan sekolah penggerak guna menciptakan SDM yang unggul sehingga pendidikan Indonesia dapat bangkit dan maju dalam kuantitas juga kualitasnya. Melalui program yang berpusat pada peningkatan sumberdaya manusia, maka sepatutnya kita terus optimis bahwa pendidikan di Indonesia terus mengalimi kemajuan. Pendidikan di Indonesia semakin progresif melalui program merdeka belajar, guru penggerak, sekolah penggerak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here