Direktur Polimdo Ajak Media Jernihkan Kekaburan Informasi Pendidikan Vokasi

MANADO, SorotanNews.com — Direktur Politeknik Negeri Manado (Polimdo) Dra Mareyke Alelo, MBA mengajak insan jurnalis di Sulawesi Utara untuk ikut menjernihkan miss leading di masyarakat yang memandang sebelah mata sarjana terapan.

Dia menyayangkan kesalahpamahan semacam itu tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat awam. Tapi, juga ada instansi pemerintah yang justru menyoal soal strara sarjana terapan lulusan polimdo.

Padahal kata Alelo pendidikan vokasi polimdo sudah hadir memberi kontribusi nayata bagi penciptaan sumberdaya manusia yang unggul dan mengisi perkembangan teknologi, pembangunan di Bumi Nyiurmelambai selama 30 tahun.

“Sangat disayangkan beberapa waktu lalu muncul masalah di lapangan. Ada instansi kantor dan dinas di kabupaten dan kota menolak anak didik kami. Menganggap bahwa mereka tidak setara dengan sarjana, ” aku Alelo saat melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan sejumlah media ternama di Kota Manado, Selasa (11/5) di Novotel Manado kemarin.

Persepsi keliru semacam itu kata Jebolan Magister Australia itu, tidak saja menciderai lembaga pendidikan vokasi seperti politeknik Negeri Manado, tapi juga merugikan para lulusan pendidikan vokasi pada umumnya.

“Yang harus dipahami bahwa ada dua aliran
mainstream pendidikan besar. Yakni : akademik dan vokasi. Dua-dua punya plus minus. Dua-dua adalah sarjana tapi kalu soal skil di dunia kerja justru vokasi jauh lebih unggul. Karena memang sarjana terapan menerapkan 60 persen pembelajarannya adalah praktek. Sisanya teori. Jadi secara tegas saya mau katakan lulusan polimdo pasti unggul di dunia kerja, ” tegasnya.

Dia mencontohkan sederet prestasi dan prestise yang diraih para lulusan Polimdo tidak hanya di dalam negeri tetapi juga unggul di luar negeri.

“Saya kasih contoh, ada anak didik kami Diploma III, pendidikan ekowisata bawah laut, dia ke Denmark, dan kemudian ia mencoba melanjutkan perkuliahannya di sana. Ketika dilihat lulusannya dari mana, malah bisa diizinkan ikut S2, dan ia telah menulis dua buku hasil karya sendiri,” sebut Direktur.

Tak hanya itu saja ada juga lulusan Polimdo belajar di Amerika Serikat. Dari 4 ribu pendaftar dari seluruh Indonesia yang diterima hanya 7 orang dan salah satunya adalah mahasiswa Polimdo.

“Anak itu belajar satu semester di Amerika Serikat. Dan masih banyak lagi anak-anak kami lolos kompetisi untuk belajar di Amerika selama satu tahun yang dibiayai penuh oleh pemerintah,” bebernya.

Kendati begitu, bagi Alelo adalah sebuah ironi hingga saat ini masih banyak yang menganggap Polimdo itu second class atau kelas kedua, padahal tidak begitu kenyataanya.

“Sejujurnya kondisi ini lebih disebabkan karena informasi yang tidak sampai kepada masyarakat. Sehingga kampus membutuhkan sinergitas dengan media massa untuk menyampaikan informasi-informasi bermutu tersebut agar publik bisa tahu,” tandasnya sembari berharap media sebagai mitra strategis dunia pendidikan untuk ikut merjenihkan kesalahan persepsi soal sarjana terapan jebolan pendidikan vokasi seperti Polimdo.

Diketahui dalam acara penandataganan MoU itu turut hadir mendampingi Direktur Polimdo, Mareyke Alelo Wakil Direktur Bidang Akademik, Tineke Saroinsong, Wakil Direktur Bidang Umum dan Keuangan, Sussy Marentek, dan Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan, Selvie Kalele. Tak lupa juga hadir Kabag Humas dan Perencanaan, Tony Alalinti dan sejumlah pimpinan media, baik cetak maupun online. (douglas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here