Astaga! Kakek 89 Tahun di Manado Diduga Jadi Korban Mafia Tanah

MANADO, SorotanNews.com— Kakek Hengky Pinontoan 89 tahun, di Manado diduga jadi korban mafia tanah. Padahal lahannya seluas 16.498 m² atau 1,6 hektare telah diregistrasi di Kelurahan Taas, Kecamatan Tikala, Kota Manado, sejak 7 September 2001. Dia mengatakan lahan miliknya itu lantas dijual tanpa izin.

Hengky kemudian menjelaskan duduk persoalan lahan miliknya yang diserobot mafia tanah.

Menurut Hengky tahun 2005, dia berencana menjual kepada Budi Kosanto. Namun tanpa izin dan pemberitahuan terhadap dia, saudara serta sepupunya dengan alasan lahan tersebut merupakan tanah budel (warisan) sehingga mereka menjual kepada Adriani Kosanto.

Hengky lantas melakukan penelusuran terkait informasi tersebut.

“Setelah ditelusuri kabar tersebut ternyata tanah kebun milik saya benar sudah terjual pada tahun 2004,” kata Hengky saat ditemui wartawan, Rabu (25/11/2021), di Manado.

Padahal menurut dia, pada tahun 2001 Pemprov Sulut melalui instansi PU merencanakan pembangunan jalan ringroad. Biaya ganti rugi lahan pun dibayar kepada dia.

“Sebagian lahan saya dipisahkan untuk proyek pembangunan jalan Manado bypass dengan ukuran 2.595 meter,” kata dia.

Hengky menegaskan dasar – dasar pembuatan sertifikat hak milik (SHM) atas nama Adriyani Kosanto semuanya tidak benar atau palsu.

“Saya dan ahli waris dari keluarga Pinontoan – Tiwa tidak pernah membuat dan menandatangani surat-surat,” tukasnya.

Hengky menjelaskan, pada tahun 2005 hingga 2006, dia membuat pencegahan pembuatan sertifikat tanah atas nama Adriani Kosanto di BPN Manado.

Dijelaskan Hengky, pada tanggal 28 November 2014, dia menjual sebagian tanah kebun kepada Hendry Tirayoh seluas 90.746 m² atau 9,7 hektare. Menurut dia, lahan tersebut sudah termasuk tanah milik keluarga Pinontoan – Tiwa atau ahli almarhum Johan Pinontoan dan Mariam C Tiwa orangnya. Lahan tersebut dijual senilai Rp. 14.380.550.000. Namun pihak pembeli baru memberikan Down Payment (DP) Rp. 1.500.000.000.

“Tanpa sepengetahuan keluarga Pinontoan – Tiwa, Hendry Tirayoh membuat Akte Jual Beli (AJB) tanah antara Hendry Tirayoh kepada Vivian Dimpudus (istri dari Hendry Tirayoh),” kata dia.

Dijelaskan Hengky, atas dasar AJB tersebut Hendry Tirayoh dan Vivian Dimpudus mengajukan pembuatan sertifikat tanah di BPN Tondano Minahasa. Namun sertifikat gagal tidak keluar karena dicegat oleh Adriani Kosanto.

“Karena pembuatan sertifikat tidak keluar maka Hendry Tirayoh melapor keluarga saya yaitu Pinontoan – Tiwa di Polda Sulut dengan tuduhan penipuan,” pungkasnya.

Sementara itu, kuasa hukum Hengky Pinontoan, James Tuwo menjelaskan dalam kasus tersebut didapati ada banyak keganjalan.

“Sertifikat ini ada dari tahun 2001, dan pengantian jalan ringroad dibayarkan kepada pak Hengky Pinontoan. Jadi dasar yang saya pegang ini adalah dasar register bahwa keluarga Pinontoan ini adalah pemilik yang sah,” kata dia.

James mengatakan dalam kasus tersebut ada indikasi permainan mafia tanah. Menurut dia, karena pembuat sertifikat tidak menggunakan dasar alas hak yang teregister di kelurahan setempat.

“Inilah dasar – dasar sehingga saya ingin membelah yang benar. Saya melihat ada dua sertifikat yang tidak memakai dasar alas hak register ini. Dia memakai alas hak 195 folio 52. Ini dasar – dasar yang saya melihat di sini ada kerancuan atau permainan mafia tanah,” tukasnya.

Dia pun mempersoalkan karena dasar pembuatan sertifikat tanah tidak menggunakan data yang terdaftar di kelurahan. Menurut dia, mafia tanah ada di mana mana. James menjelaskan kenapa ada register sah yang dikeluarkan pada tahun 2001, namun menggunakan 195 folio 52 untuk membuat sertifikat.

“Terbuatlah sertifikat itu dua, dengan luas yang berbeda. Tetapi register yang asli 17 folio 7 hanya 16 ribu. Nah kerancuan ini kelihatannya register ini tidak terdaftar di kelurahan,” pungkasnya. (trima)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here