oleh

Terapkan Restorative Justice, Kejari Minsel Hentikan Penuntutan Kasus Penganiayaan Tersangka Marco Ondang

AMURANG, SorotanNews.com — Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan melakukan penghentian penuntutan tindak pidana penganiayaan terhadap tersangka Marco Marcelino Mansari Ondang alias Jhon berdasarkan Restorative Justice (RJ), Rabu (09/02) kemarin.

Kepala Sie Intelejen Kejari Minsel Aldi Hermon melalui rilis yang diterima redaksi ini, menjelaskan tersangka Jhon sebelumnya dijerat dengan pasal 351 ayat 1 KUH pidana perihal dugaan penganiayaan terhadap korban Christian Sangelorang alias Iwan.

“Keputusan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan Restorative Justice yang dikeluarkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan Budi Hartono, diberikan berdasarkan kesepakatan damai antara korban dan tersangka yang dilakukan pada Kamis (03/02) pekan lalu,” ungkap Hermon.

Dia menjelaskan dalam proses fasilitatasi perdamianan yang dilakukan pihak Kejaksaan Negeri Minsel terhadap tersangka dan korban berjalan kondusif. Kedua belah pihak saling menerima dan sepakat berdamai.

Dimana Korban Christian Sangelorang alias Iwan memaafkan perbuatan dan kesalahan tersangka dengan ikhlas dan lapang dada serta beralasan tersangka dan korban masih ada hubungan pertemanan.

Tersangka juga meminta maaf atas kesalahan dan perilaku yang tidak pantas dan tidak layak yang dilakukan tersangka dengan menganiaya korban dan merusak mobil yang dikendarai korban.

“Tersangka beserta orang tua-nya juga meminta maaf kepada istri korban serta keluarga korban yang hadir pada saat perdamaian,” urai Kasie Intel.

Berdasarkan pertimbangan itu, maka berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restorative Justice, perkara pidana atas nama tersangka MARKO MARCELINO MANSARI ONDANG Alias JHON dinyatakan ditutup demi hukum dan tidak dilanjutkan ke tahap persidangan.

Diketahui Perkara Restorative Justice tersebut, telah dilakukan ekspose perkara pada hari Rabu tanggal 09 Februari 2022, oleh Plt. Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara FREDY RUNTU., S.H melalui Asisten Tindak Pidana Umum JEFFRY MAUKAR, S.H., M.H, Kepala Seksi Oharda CHERDJARIAH, S.H., M.H, Kepala Seksi Penerangan Hukum THEODORUS RUMAMPUK, S.H., M.H dan Kepala Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan BUDI HARTONO, S.H., M.Hum didampingi Kepala Seksi Tindak Pidana Umum WIWIN B. TUI., S.H, Kepala Sub Seksi Pra Penuntutan Tindak Pidana Umum ERIKA, S.H secara virtual dengan Jaksa Agung Tindak Pidana Umum Bapak Dr. FADIL ZUMHANA, SH., MH serta Direktur Oharda Dr. GERRY YASID, S.H., M.H.

Adapun Syarat dilakukan Restorative Justice terhadap perkara atas nama tersangka MARKO MARCELINO MANSARI ONDANG Alias JHON sebagai berikut :

Tersangka Baru pertama Kali melakukan Tindak Pidana; Tindak pidana yang dilakukan tersangka diancam pidana penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun. Telah ada kesepakatan perdamaian antara pihak korban dan tersangka. Masyarakat merespon positif.

Kronologis peristiwa penganiayaan

Kronologis kejadian Penganiayaan, awalnya pada hari Kamis tanggal 11 Maret 2021 sekitar pukul 20.00 Wita, saksi korban CHRISTIAN SANGELORANG Alias IWAN, Dkk pergi kerumah salah satu teman saksi korban yang ada di Desa Maliku Kec. Amurang Timur Kab. Minahasa Selatan untuk menghadiri Acara Ulang Tahun dengan mengendarai mobil Xenia yang dikemudikan oleh saksi korban, kemudian pada saat itu saksi korban dan temanya menuju arah pulang, sekitar pukul 00.15 Wita dini hari, tepatmya diujung kampung Desa Maliku, saksi korban dihadang atau diberhentikan oleh terdakwa MARKO M. M. ONDANG yang pada saat itu sudah dalam keadaan mabuk akibat mengkonsumsi minuman keras yakni dengan cara tersangka memasang sebuah bambu melintang di tengah jalan sehingga kendaraan saksi korban tidak bisa lewat.

Selanjutnya pada saat mobil berhenti, secara tiba-tiba tersangka langsung datang memukul kaca depan mobil saksi korban, tidak lama kemudian tersangka langsung berputar dari arah belakang mobil dan langsung mendekati kearah saksi korban di kursi pengemudi dan tanpa berbicara atau basa-basi tersangka langsung melakukan pemukulan terhadap korban dengan menggunakan tangan kiri yang terkepal sebanyak 2 (dua) kali. Setelah melakukan pemukulan tersebut, tersangka lalu membuka bambu yang digunakan untuk menghadang kendaraan, kemudian saksi korban langsung meninggalkan tempat tersbut. Perbuatan tersangka tersebut mengakibatkan kepala saksi korban terasa sakit, bagian pipi kanan nyeri dan bengkak serta kaca mobil rusak.

Motif tersangka melakukan penganiayaan karena sudah dipengaruhi minuman keras serta tersangka merasa sakit hati kepada saksi korban karena selisih paham pada saat acara Ulang Tahun.

Terwujudnya perdamaian : karena Jaksa sebagai Fasilitator mencoba mendamaikan dengan cara mempertemukan kedua belah pihak yang disaksikan oleh Perangkat Desa dan Pendeta Jemaat Desa Maliku, yang hasilnya tersangka meminta maaf atas kesalahan dan perilaku yang tidak pantas dan tidak layak yang dilakukan tersangka dengan menganiaya saksi korban dengan cara memukul dan merusak kaca mobil dan saksi korban sudah memaafkan tersangka sehingga kami berpendapat untuk Menghentikan Penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif sehingga perkara tidak perlu dilimpahkan ke Pengadilan.

Pelaksanaan Penghentian Penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif dilaksanakan oleh tersangka dan saksi korban yang disaksikan oleh Keluarga Korban, Tokoh Masyarakat, Penyidik serta Fasilitator maupun Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan.

Dari perkara tindak pidana umum yang dilakukan Ekspose tersebut Jaksa Agung Tindak Pidana Umum Bapak Dr. FADIL ZUMHANA, SH., MH didampingi Direktur Oharda Dr. GERRY YASID, S.H., M.H memberikan Persetujuan untuk dilakukan Restorative Justice dan selanjutnya akan dilakukan Penghentian Penuntutan oleh Kejaksaan Negeri yang bersangkutan. Bahwa perkara Tindak Pidana tersebut dapat ditutup demi hukum dan dihentikan penuntutan berdasarkan Keadilan Restorative Justice oleh karena telah memenuhi syarat untuk dilakukan Restorative Justice.

RJ ini diikuti secara virtual oleh Kepala Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan beserta Kasi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *