oleh

Balai POM Gelar Sosialisasi KIE Bareng Ketua Komisi IX DPR-RI

AMURANG — Balai Penagawas Obat dan Makanan (BPOM) Manado, bersama Ketua Komisi IX DPR-RI Felly Esterlita Runtuwene menggelar sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Obat dan Makanan, bagi warga Kecamatan Tumpaan, Rabu (13/04) hari ini.

Ketua Komisi IX DPR-RI FER berharap melalui kegiatan sosialisasi semacam ini masyarakat memiliki kecakapan dalam memilih dan menggunakan produk makanan atau obat secara baik.

“Cerdas memilih obat dan pangan aman. Dengan harapan masyarakat menjadi konsumen yang cerdas dengan menerapkan cek kemasan, cek label, cek izin edar dan cek kedaluwarsa (KLIK),” harap Runtuwene.

FER yang hadir sebagai narasumber itu menyebutkan sejumlah bahan makanan yang mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan seperti formalin, boraks, Rhodamin B dan Methanil Yellow.

“Boraks itu bahayanya adalah menyebabkan gangguan otak, hati dan ginjal. Formalin efeknya membuat mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar yang ujung bisa merusak jantung, otak dan sistem saraf. Sementara Metanil kuning dan Rhodamin B jika terjadi akumulasi bisa menyebabkan kanker,” urai FER.

Di sisi lain, politisi Senayan itu juga menyentil kandungan bahan berbahaya yang sering ditemukan pada kosmetik. Seperti Mercuri, Asam Retinoat (tanpa pengawasan dokter) , dan Rhodamin B (harus dengan pengawasan dokter kulit).

“Ini juga bahaya mengancam. Bisa kulit melepuh dan rusak parah tetapi juga menyebabkan kanker kulit,” ingatnya.

Guna menghindari hal-hal semacam itu, FER menegaskan pentingnya memiliki kemampuan untuk mengetahui mana produk pangan yang sehat, obat serta kosmetik yang baik untuk kesehatan.

“Tipsnya sederhana. Periksa kemasan produk dan pastikan dalam kondisi baik, jangan lupa baca informasi produk pada label yang tertera pada kemasan, pastikan memiliki ijin edar dari BPOM, cek kadaluarsanya. Simpel kan,” katanya lagi.

Di bagian akhir FER juga menambahkan makanan dan obat berdampak pada pertumbuhan fisik dan kesehatan tubuh. Itu sebab menurutnya pola asuh dan perbaikan gizi menjadi salah satu bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Kebiasaan kurang memperhatikan pola asuh dan gizi ternyata berdampak pada terjadinya stunting.

“Secara umum penyebabnya ada tiga. Pertama pola makan. Ini lebih disebabkan karena rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi. Kedua pola asuh, faktor ini dipengaruhi pada aspek perilaku pola asuh yang kurang baik pada pemberian makanan anak dan balita, dan yang ketiga soal sanitasi dan rendahnya akses air dan pelayanan kesehatan,” tandas FER.

Untuk mencegah stunting bisa ditempuh dengan tiga startegi pertama, perbaiki gizi dan pola makan, edukasi pola asuh sejak mengandung dan menyusui, peningkatan sanitasi dan akses air bersih serta pelayanan kesehatan.

Sementara itu pihak BPOM sendiri mengatakan perlunya memastikan konsumsi pangan yang sehat serta banyak konsumsi buah dan sayur untuk meningkatkan asupan vitamin dalam rangka meningkatkan daya tahan tubuh.

Masyarakat juga tetap dihimbau untuk selalu prokes dan ikut melakukan vaksinasi sesuai anjuran pemerintah agar menciptakan kekebalan tubuh dan kekebalan komintas. BPOM juga menjamin bahwa vaksin yang diberikan aman untuk masyarakat.

(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *