MANADO, SorotanNews.com – Di bawah langit Sulawesi Utara yang kian cerah, sebuah narasi besar tentang ketangguhan ekonomi sedang ditulis. Bukan sekadar deretan angka di atas kertas laporan, melainkan sebuah manifestasi dari tata kelola yang presisi. Sepanjang Tahun Anggaran 2025, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) membuktikan bahwa disiplin fiskal dan keberpihakan pada rakyat adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay, Provinsi Sulawesi Utara tidak hanya bertahan di tengah dinamika ekonomi global, tetapi justru melaju melampaui rata-rata nasional.
Berjalan menyusuri lorong-lorong pembangunan di Sulut, jejak realisasi anggaran terasa nyata. Realisasi pendapatan daerah yang menyentuh angka Rp3,65 triliun (96,38%) menjadi bukti bahwa mesin pemungutan pendapatan—terutama Pajak Daerah—bekerja dengan optimal. Namun, cerita utamanya bukan hanya tentang seberapa banyak uang yang masuk, melainkan seberapa bijak uang itu dikeluarkan.
Sesuai dengan mandat Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025, Pemprov Sulut melakukan ‘diet‘ anggaran yang cerdas. Belanja operasional yang tidak mendesak dipangkas, sementara keran anggaran untuk program rakyat dibuka lebar. Hasilnya? Realisasi belanja modal mencapai 94,00 persen. Ini adalah sinyal kuat bahwa prioritas pemerintah tetaplah pada infrastruktur, jalan, jaringan irigasi, dan fasilitas publik yang langsung menyentuh nadi ekonomi warga.
Efisiensi bukan berarti pelit, melainkan memastikan setiap rupiah yang keluar memiliki dampak ganda bagi kesejahteraan masyarakat, menjadi prinsip yang tertanam dalam birokrasi Sulut saat ini.
Benteng Fiskal yang Kian Kokoh
Jika kita melihat “buku tabungan” daerah, struktur neraca Sulut menunjukkan performa yang sangat sehat. Total aset melonjak drastis dari Rp10,78 triliun menjadi Rp11,87 triliun. Menariknya, kewajiban atau utang daerah berhasil ditekan secara signifikan hingga ke angka Rp847 miliar.
Kondisi ini menciptakan posisi ekuitas yang sangat kuat, yakni Rp11,02 triliun. Dengan postur keuangan yang prudent (bijaksana) dan berkelanjutan ini, Sulawesi Utara memiliki ruang napas yang lega untuk membiayai pembangunan di masa depan tanpa harus terbebani oleh utang yang menjerat.
Melampaui Angka Nasional
Keberhasilan di meja birokrasi ini berbuah manis di lapangan. Indikator makro ekonomi Sulawesi Utara menjadi “primadona” di kawasan timur Indonesia:
- Pertumbuhan Ekonomi: Saat rata-rata nasional berada di angka 5,11%, Sulut melesat di angka 5,66% (yoy).
- Pengendali Inflasi:Di tengah gejolak harga pangan, inflasi Sulut terkendali rendah di angka 1,23%, jauh di bawah nasional yang mencapai 2,92%.
- Senyum Kemiskinan yang Berkurang: Dengan tingkat kemiskinan 6,62%, Sulut resmi menyandang status sebagai provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah di seluruh daratan Sulawesi.
Angka-angka di atas adalah pondasi. Visi “Menuju Sulawesi Utara Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan” bukan lagi sekadar slogan kampanye, melainkan peta jalan yang sedang ditempuh dengan langkah pasti.
Optimisme kini menyeruak di antara masyarakat. Dengan kinerja fiskal yang solid dan stabilitas ekonomi yang kompetitif, Bumi Nyiur Melambai tengah bersiap untuk lompatan yang lebih jauh. Di tangan kepemimpinan yang konsisten dan pengelolaan keuangan yang transparan, kesejahteraan bukan lagi sebuah mimpi di ufuk jauh, melainkan realitas yang sedang dibangun satu demi satu di setiap sudut desa dan kota di Sulawesi Utara. (dou)



Tinggalkan Balasan