JAKARTA, SorotanNews.com – Di bawah langit Jakarta yang terik, Rabu (06/05/2026), sebuah prosesi sakral berlangsung di Universitas Trisakti. Di antara ribuan wisudawan, sosok pemuda asal Sulawesi Utara, Kingin Pratasis, ST, berdiri dengan tegak. Toga biru yang tersampir di bahunya bukan sekadar atribut seremoni; itu adalah simbol dari ribuan doa, tetesan keringat, dan perjalanan panjang menyeberangi lautan demi sebuah martabat.
Bagi Kingin, jalan menuju podium wisuda kampus legendaris Indonesia ini tidaklah bertabur bunga. Ia membawa napas perantau, anak kampung yang datang ke Ibu Kota dengan satu bekal utama: keyakinan sang ayah.
Noldy Pratasis, pria asal Minahasa Selatan (Minsel), menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. Baginya, keberhasilan Kingin merengkuh gelar Sarjana Teknik adalah “kemenangan” bagi setiap orang tua yang berani bermimpi meski berangkat dari keterbatasan.
“Bagi torang orang tua dari kampung, warisan utama bukan sertifikat rumah, tanah, atau mobil, tapi IJAZAH. Itu yang torang pegang,” ujar Noldy dengan nada bergetar.
Noldy yang merantau ke Jakarta demi masa depan keluarga percaya bahwa pendidikan adalah satu-satunya tangga untuk mengangkat derajat. Ia tak ingin mewariskan harta yang bisa habis, melainkan ilmu yang akan menjadi pelita seumur hidup bagi anaknya.
“Torang cuma orang biasa, tapi puji Tuhan, Kingin bisa selesai dari kampus ternama di Indonesia,” tambahnya.
Di balik kegembiraan itu, terselip kerinduan yang mendalam. Kingin menyadari bahwa keberhasilannya adalah hasil dari perpaduan kasih sayang yang tak putus. Ada doa almarhumah ibunda, Selviana Demena, yang ia yakini terus mengiringi dari surga, serta ketulusan Mama Restiana Yusuf yang tak lelah menguatkan langkahnya selama di perantauan.
“Gelar ini saya persembahkan untuk almarhumah Mama Selviana di surga,” tutur Kingin penuh haru.
“Makasih banyak juga buat Papa Noldy dan Mama Restiana. Tanpa mereka, Kingin tidak mungkin sampai di titik ini. Mereka adalah energi yang membuat saya tetap bertahan di tengah kerasnya Jakarta.” Timpalnya.
Melenting Lebih Tinggi untuk Sulut
Gelar ST di belakang namanya kini menjadi tanggung jawab baru. Kingin tidak ingin ilmu yang didapatnya hanya tertahan dalam bingkai ijazah. Ia memiliki mimpi besar untuk “melenting lebih tinggi,” membawa perubahan bagi masyarakat, khususnya untuk tanah kelahirannya, Sulawesi Utara.
Bagi pemuda asal Bumi Nyiur Melambai ini, wisuda hanyalah garis start. Ia ingin membuktikan bahwa anak daerah memiliki kualitas yang setara untuk bersaing di level nasional. Prinsipnya sederhana namun kokoh: andalkan Tuhan dalam setiap langkah.
Kini, Kingin siap melangkah keluar dari gerbang kampus. Ia membawa pulang harapan ke Sulawesi Utara, membuktikan bahwa kerja keras dan iman mampu mengubah nasib anak kampung menjadi sarjana yang siap berkarya.
Dari Jakarta untuk Sulawesi Utara, kisah Kingin adalah pengingat bagi kita semua: bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia, dan doa orang tua adalah bahan bakar yang tak pernah padam. (dou)



Tinggalkan Balasan