KENDARI, SorotanNews.com — Malam di Ballroom Hotel Claro, Kendari, Jumat, 29 Mei 2026, mendadak riuh oleh tepuk tangan saat nama Sulawesi Utara disebut. Di atas panggung, Gubernur Sulut, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE, menerima map penghargaan dari Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago. Tak sekadar plakat, penghargaan malam itu membawa “hadiah” konkret: Dana Insentif Fiskal sebesar Rp3 Miliar.
Bagi Bumi Nyiur Melambai, angka Rp3 miliar dan predikat Terbaik 1 Regional Sulawesi untuk Kategori Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting bukanlah hadiah jatuh dari langit. Ia adalah buah dari rapor panjang intervensi kebijakan yang rigid di tingkat tapak.

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, yang hadir malam itu, memberikan catatan tebal. Penghargaan ini, kata Tito, bukan pemanis retorika.
“Penghargaan ini kami berikan untuk mengapresiasi kinerja kepala daerah di empat bidang krusial, yakni penanganan pengangguran, penanggulangan kemiskinan dan stunting, pengendalian inflasi, serta penerapan pembiayaan inovatif (creative financing),” ujar Tito.
Di regional Sulawesi, menyatukan ritme kerja antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota kerap menjadi tantangan geografis dan birokrasi. Namun, malam itu, Sulawesi Utara menunjukkan bagaimana orkestrasi kebijakan itu bekerja.
Orkestrasi dari Provinsi hingga Kampung
Jika melongok daftar pemenang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026, dominasi Sulut memang terasa dominan. Keberhasilan ini tidak berdiri sendiri di tingkat provinsi, melainkan ditopang oleh agresivitas pemerintah daerah di bawahnya.
Saat Pemprov Sulut menyabet posisi puncak, di tingkat kota, Tomohon mengunci gelar Terbaik 1 untuk kategori yang sama—kemiskinan dan stunting. Sementara itu, Kota Bitung berhasil menjinakkan harga-harga pasar dengan meraih Terbaik 1 Kategori Pengendalian Inflasi.
Di lapis kedua, Manado mendulang dua prestasi sekaligus: Terbaik II penanganan stunting dan Terbaik III untuk urusan adopsi pembiayaan inovatif (creative financing). Dari wilayah Bolaang Mongondow Raya, Boltim menggenapi dominasi itu dengan menyabet Terbaik II penanggulangan kemiskinan dan stunting tingkat kabupaten.
Sinergi horizontal dan vertikal inilah yang dinilai juri nasional menjadi pembeda Sulut dengan provinsi lain di pulau berbentuk huruf ‘K’ ini.
Bagi Yulius Selvanus, yang baru melepas seragam militer setingkat jenderal bintang dua, capaian ini adalah validasi atas kerja kolaboratif. Ditemui usai acara, ia enggan jemawa.
“Penghargaan ini bukan hanya milik pemerintah provinsi, tetapi milik seluruh masyarakat Sulawesi Utara,” kata Yulius, merendah.
Menurutnya, esensi dari penurunan angka stunting dan kemiskinan bukanlah pembacaan statistik di forum-forum nasional, melainkan tentang bagaimana memastikan tidak ada anak-anak di pesisir atau pedalaman Sulut yang kekurangan gizi kronis.
“Ini adalah hasil kerja bersama, kolaborasi, dan komitmen seluruh daerah dalam mendukung program pembangunan nasional. Insentif fiskal Rp3 miliar ini akan dikembalikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mempercepat pembangunan yang langsung menyentuh kesejahteraan masyarakat,” tambah Yulius.
Dengan memboyong pulang modal insentif miliaran rupiah dan sederet trofi, Manado dan sekitarnya kini memikul beban baru: mempertahankan posisi sebagai role model tata kelola pemerintahan yang progresif di Kawasan Timur Indonesia. Tantangan yang, tentu saja, jauh lebih berat ketimbang merebutnya. (dou)



Tinggalkan Balasan