AMURANG, SorotanNews.com –Senin pagi, 8 Juni 2026, udara di Kecamatan Tenga, Minahasa Selatan, terasa sedikit berbeda. Ada riak antusiasme sekaligus harapan yang menggantung di udara Desa Pakuweru Utara dan Desa Sapa Timur. Hari itu bukan sekadar hari kerja biasa; hari itu adalah langkah awal bagi kedua desa untuk menjemput kembali nakhoda definitif mereka yang sempat hilang.

Menyadari pentingnya momen ini, Bupati Minahasa Selatan, Franky Donny Wongkar, S.H., tidak ingin hanya menerima laporan di balik meja nyaman ruang kerjanya. Sebagai tindak lanjut dari Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang digelar awal Juni lalu, ia memilih turun langsung ke lapangan. Bersama jajaran Forkopimda, unsur TNI, dan Polri, Bupati berjalan menyusuri desa, memastikan bahwa transisi kepemimpinan ini berjalan tanpa cela.

Mekanisme Pemilihan Hukum Tua Pengisian Antar Waktu (Pilhut PAW) melalui Musyawarah Desa (Musdes) terpaksa digelar karena takdir dan pilihan hidup membawa cerita berbeda di dua desa ini:

Desa Pakuweru Utara: Kehilangan pemimpin setelah Hukum Tua sebelumnya memilih mengundurkan diri pasca-lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Sebuah pilihan profesional yang meninggalkan kursi kosong di balai desa.

Desa Sapa Timur :  Ceritanya lebih emosional. Suasana duka masih menyelimuti ingatan warga setelah Hukum Tua definitif mereka berpulang ke pangkuan Sang Pencipta, meninggalkan sisa masa jabatan lebih dari satu tahun yang harus dilanjutkan.
Bagi kedua desa, Pilhut PAW bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan jembatan untuk melanjutkan mimpi-mimpi pembangunan desa yang sempat tertunda.


Kehadiran rombongan Bupati dan tim gabungan siang itu melampaui pemeriksaan formalitas lembar administrasi atau kotak suara. Fokus utama mereka adalah merawat kedamaian—memastikan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) tetap terjaga di tengah hangatnya suhu politik tingkat desa.

Di sela-sela peninjauan, Bupati Franky Donny Wongkar menyempatkan diri berdialog dengan panitia dan warga setempat. Senyum hangat dan ketegasan berpadu saat ia menyampaikan pesannya.

“Kehadiran kami bersama jajaran Forkopimda adalah wujud nyata komitmen pemerintah daerah untuk memastikan hak-hak demokrasi masyarakat desa terfasilitasi dengan baik,” ujar Franky dengan nada optimis.
Ia juga menitipkan pesan mendalam bagi seluruh warga yang hadir.

“Kami mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya di Desa Pakuweru Utara dan Desa Sapa Timur, untuk terus menjaga kerukunan sejak sebelum pemilihan hingga terpilihnya Hukum Tua yang baru. Siapa pun yang terpilih, mari terima dengan penuh tanggung jawab.” Pesan Bupati.

Bagi Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, suksesnya Pilhut PAW di Kecamatan Tenga ini akan menjadi tolok ukur kematangan berdemokrasi di tingkat akar rumput. Targetnya tidak main-main: melahirkan sosok Hukum Tua yang memiliki legitimasi kuat, integritas tanpa pamrih, dan kapasitas mumpuni.

Sebab, tugas berat sudah menanti di depan mata. Pemimpin baru yang terpilih nanti harus berlari cepat, beradaptasi dengan dinamika zaman, dan bersinergi dengan program besar daerah demi satu tujuan: membawa masyarakat Minahasa Selatan menjadi lebih maju, berkepribadian, dan sejahtera.

Hari mulai beranjak sore di Kecamatan Tenga, namun optimisme baru saja dimulai. Di tangan masyarakat Pakuweru Utara dan Sapa Timur, masa depan desa kini dipertaruhkan lewat musyawarah yang damai. (dou)