AMURANG, SorotanNews.com —-Aroma kopi hangat dan riuh rendah diskusi memenuhi salah satu ruang pertemuan di Hotel Sutanraja Amurang, Senin (29/06) malam. Di bawah lampu aula yang benderang, sejumlah tokoh masyarakat, birokrat, dan akademisi duduk melingkar. Mereka tidak sedang membicarakan politik praktis biasa, melainkan sedang merajut mimpi besar yang sudah lama tertidur: membawa Amurang bertransformasi menjadi sebuah Kota Otonom baru.

Di tengah jalannya diskusi publik yang menguliti peluang Daerah Otonom Baru (DOB) dari kacamata fiskal tersebut, suara Donny Yahya Tampemawa, S.Pd SH, MM, MH terdengar lugas.

Praktisi hukum dan sosial ekonomi itu menatap audiens dengan optimisme tinggi. Bagi Donny, Amurang bukan sekadar ibu kota kabupaten; ia adalah raksasa tidur yang punya segala syarat untuk mandiri.

“Amurang memiliki potensi maritim yang luar biasa,” ungkap Donny, memecah keseriusan ruangan.

Ia kemudian mengajak peserta diskusi mundur sejenak ke masa lalu. Secara historis, Amurang bukanlah nama baru dalam peta perdagangan nusantara. Jauh sebelum bendera Merah Putih berkibar, pelabuhan alami di teluk ini sudah menjadi magnet bagi para pelaut dan pedagang antar pulau. Kejayaan masa lalu inilah yang menurutnya harus dijemput kembali lewat tiga pilar utama: kawasan industri, kota jasa, dan modernisasi pelabuhan.

Letak geografis Amurang yang berada persis di “jantung” Sulawesi Utara menjadi kartu as yang tak dimiliki daerah lain. Donny menggambarkan sebuah rantai logistik baru yang jauh lebih efisien jika pelabuhan Amurang dibenahi secara total.

“Amurang itu di tengah-tengah. Ia menghubungkan akses langsung ke Gorontalo, Bolaang Mongondow, bahkan ke Manado,” urai Donny.

Selama ini, kapal-kapal besar pembawa logistik dari Jakarta harus berputar jauh dan berlabuh di Pelabuhan Bitung. Dampaknya, biaya angkut darat menuju wilayah barat Sulawesi Utara menjadi melambung tinggi. Jika Pelabuhan Amurang naik kelas, kapal logistik bisa langsung bersandar di sana, memangkas jarak, waktu, dan biaya secara signifikan.

Lebih jauh lagi, Donny melihat peluang emas di era baru ini: akses langsung menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan. Posisi Amurang yang menghadap langsung ke jalur selat makassar menjadikannya gerbang penyuplai logistik yang sangat potensial bagi ibu kota baru tersebut.

Namun, jalan menuju pemekaran tentu tidak semulus bentangan aspal Trans-Sulawesi. Di ujung pemaparannya, Donny mengingatkan sebuah batu sandungan besar yang bersifat sistemik: kebijakan moratorium pemekaran daerah yang hingga kini belum dicabut oleh pemerintah pusat.

Lantas, apakah perjuangan harus berhenti di meja birokrasi Jakarta? Donny menggeleng tegas.

“Sambil menunggu moratorium dibuka, kita action saja dulu,” cetusnya disambut anggukan setuju para peserta.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) tidak perlu menunggu ketukan palu dari Jakarta untuk mulai membangun. Pemkab harus didorong sejak sekarang untuk menata infrastruktur penunjang, memperluas kawasan industri, dan meningkatkan pelayanan jasa. Ketika sektor-sektor ini tumbuh dan menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan, Amurang otomatis akan menjelma menjadi daerah yang mandiri secara finansial.

“Begitu moratorium dicabut, Amurang sudah dalam kondisi sangat layak dan siap,” tambah Donny.

Diskusi yang dipandu oleh wartawan senior Douglas Panit itu berjalan dinamis. Curah pendapat dan sanggahan silih berganti mewarnai forum. Meski ada berbagai catatan dan pertimbangan matang yang dilemparkan audiens, satu suara bulat bergema di akhir acara: Amurang memang layak menjadi Kota.

Hadir pula di lokasi, Ketua Harian Forum Komunikasi Pejuang Kota Amurang (FORKOM PKA) Frangky Lelengboto bersama Sekretaris Jacky Wauran.

Kehadiran mereka menegaskan bahwa mesin perjuangan ini masih terus merawat energinya.

Donny menitipkan pesan penutup yang sarat emosi kepada para pejuang pemekaran tersebut. Ia meminta FORKOM untuk menjaga napas panjang dalam perjuangan ini.

“Jangan lengah atau berhenti di tengah jalan. Terus lakukan upaya dari berbagai aspek, karena perjuangan ini adalah demi masa depan generasi Amurang,” pungkasnya malam itu, menutup sebuah diskusi panjang yang membawa pulang harapan baru bagi masyarakat Amurang. (dou)