MANADO, SorotanNews.com — Riuh rendah tepuk tangan dan kegembiraan pecah di Graha Gubernuran Bumi Beringin, Rabu (1/7/2026). Sore itu, langit Manado seolah ikut menjadi saksi bisu atas kepulangan sebuah lambang supremasi tertinggi dunia tarik suara gerejawi tanah air. Di sana, berdiri tegak sebuah trofi berlapis prestise: Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia.

Sulawesi Utara resmi menobatkan diri sebagai Juara Umum Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV yang digelar di Manokwari, Papua Barat. Bagi Bumi Nyiur Melambai, piala ini bukan sekadar logam pajangan, melainkan simbol dari keringat, air mata, dan harmoni yang terjaga.

Mata Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, tampak berkaca-kaca saat menyambut kontingen yang baru saja mendarat. Di hadapan para penyanyi, pelatih, dan pengurus yang tampak lelah namun sumringah, sang purnawirawan jenderal memberikan penghormatan tertingginya.

“Prestasi ini adalah bukti nyata bahwa anak-anak daerah Sulawesi Utara memiliki kemampuan dan kualitas yang mampu bersaing serta menjadi yang terbaik di tingkat nasional,” ujar Gubernur Yulius dengan nada suara bergetar bangga.

Bagi Yulius, raihan ini bukanlah sebuah kebetulan atau keberuntungan semata. Ini adalah muara dari sebuah proses panjang yang melelahkan. Di balik satu setengah menit penampilan memukau di atas panggung Manokwari, ada bulan-bulan panjang berisi latihan vokal yang ketat, kedisiplinan yang menjemukan, dan pengorbanan waktu bersama keluarga.

“Ini merupakan hasil kerja keras seluruh peserta, pelatih, pembina, pengurus LPPD, serta dukungan doa dari seluruh masyarakat Sulawesi Utara,” tambahnya.

Keberhasilan membawa pulang Piala Presiden ini juga tidak lepas dari tangan dingin Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Sulut. Di bawah komando Ibu Anik Yulius Selvanus, lembaga ini berhasil merajut potensi-potensi lokal yang tersebar di berbagai pelosok kabupaten/kota menjadi satu simfoni yang utuh dan solid.

Sulawesi Utara memang sejak lama dikenal sebagai “gudang” paduan suara berkualitas dunia. Namun, mempertahankan tradisi juara di tengah ketatnya persaingan multikultural dari provinsi lain jelas bukan perkara mudah. Dominasi Sulut di berbagai kategori lomba pada Pesparawi XIV kali ini menegaskan satu hal: pembinaan sumber daya manusia di sektor seni budaya daerah ini berjalan di jalur yang tepat.

Catatan Prestasi Kontingen Sulut di Pesparawi Nasional XIV:
├── Juara Umum Nasional 2026
├── Membawa Pulang Piala Bergilir Presiden RI
└── Didominasi Medali Emas di Berbagai Kategori Utama

Lebih dari Sekadar Kompetisi

Bagi masyarakat Sulawesi Utara, seni paduan suara bukan sekadar hobi atau ajang adu gengsi. Ia adalah refleksi dari kehidupan beragama yang harmonis dan toleran. Di dalam barisan paduan suara, perbedaan suara sopran, alto, tenor, dan bass tidak pernah diperdebatkan, melainkan disatukan untuk melahirkan sebuah keindahan. Nilai filosofis inilah yang dirasa berhasil dibawa oleh kontingen Sulut ke panggung nasional.

Gubernur Yulius menegaskan bahwa capaian monumental ini harus menjadi pemantik api semangat bagi generasi z dan milenial di Sulawesi Utara untuk tidak minder dan terus mengukir prestasi.

“Semoga prestasi yang diraih menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya, berprestasi, dan membawa nama harum Sulawesi Utara di tingkat nasional maupun internasional,” pungkas Yulius optimis.

Matahari mulai tenggelam di Teluk Manado, namun gaung kemenangan dari Papua Barat masih menggema jelas. Piala Presiden kini telah bersemayam di Bumi Beringin—menjadi bukti sahih bahwa ketika talenta lokal dirawat dengan kerja keras dan keharmonisan, tidak ada panggung yang terlalu tinggi untuk ditaklukkan. (dou)