MINAHASA SELATAN, SorotanNews.com — Gerbong mutasi di tubuh Kepolisian Resor (Polres) Minahasa Selatan kembali bergerak. Jabatan Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Minsel resmi berganti.

AKP Gede Indra Anggara Pratama, S.I.K., M.H., yang sebelumnya menjabat sebagai Kasatreskrim Minsel, kini mendapatkan promosi jabatan baru sebagai Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Minahasa Utara (Minut). Sementara itu, tongkat estafet kepemimpinan Satreskrim Polres Minsel kini dipercayakan kepada Iptu Stefi Sumolang.

Pergantian kepemimpinan ini diiringi harapan besar dari masyarakat. Publik menaruh ekspektasi tinggi di pundak Iptu Stefi Sumolang untuk menuntaskan sejumlah pekerjaan rumah (PR) penegakan hukum di wilayah hukum Minsel, terutama dalam memberantas praktik mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Biosolar yang kian meresahkan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, aktivitas penyalahgunaan BBM bersubsidi disinyalir marak terjadi di tiga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Minsel, yakni SPBU Kapitu, SPBU Amurang, dan SPBU Tumpaan.

Modus operandi yang digunakan oleh para pelaku—yang kerap dijuluki warga sebagai “drakula pengisap BBM subsidi”—diduga melibatkan kerja sama terselubung dengan oknum operator SPBU.

“Ada dugaan kuat para pelaku memberikan upeti atau uang pelicin sebesar Rp50.000 kepada operator untuk setiap kali pengisian agar aksi mereka berjalan mulus. Drakula biasanya menghisap darah, tapi drakula di Minsel rupanya bisa menghisap subsidi BBM,” ungkap salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Tak main-main, pasokan solar subsidi yang berhasil “diisap” dari ketiga SPBU tersebut tergolong fantastis dan bervariasi setiap harinya: SPBU Amurang: Mencapai 125 liter per hari per kendaraan, SPBU Tumpaan: Mencapai 200 liter per hari per kendaraan, SPBU Kapitu: Mencapai 125 liter sekali pengisian.

BBM bersubsidi yang berhasil ditimbun tersebut kemudian diduga kuat dijual kembali kepada pihak penampung (buyer) atau penimbun ilegal dengan harga nonsubsidi mencapai Rp13.000 per liter, demi meraup keuntungan pribadi yang besar.

Praktik ilegal ini berdampak langsung pada masyarakat kecil, khususnya para sopir armada ekspedisi. Saban hari, antrean kendaraan mengular panjang di ketiga SPBU tersebut. Ironisnya, setelah mengantre berjam-jam, para sopir logistik ini kerap gigit jari karena pasokan Biosolar habis disapu para mafia.

Lebih dari sekadar kerugian ekonomi, gesekan di lapangan akibat perebutan antrean BBM ini telah berulang kali memicu konflik fisik. Bahkan, catatan merah menunjukkan bahwa di wilayah sekitar SPBU Kapitu pernah terjadi kasus pertikaian yang berujung pada tindak pidana pembunuhan.

Masyarakat juga menyoroti efektivitas razia yang dilakukan aparat selama ini. Muncul dugaan kuat bahwa rencana penertiban atau razia kerap bocor sebelum polisi tiba di lokasi.

“Anehnya, setiap kali ada isu razia, antrean langsung sepi dan bersih. Kuat dugaan informasi penertiban bocor ke pihak SPBU,” tambah sumber tersebut.

Selain kebocoran informasi, satuan reserse di bawah nahkoda baru juga ditantang untuk menindak tegas kendaraan-kendaraan dengan tangki yang telah dimodifikasi secara ilegal, serta penggunaan barcode MyPertamina yang tidak sesuai dengan jenis kendaraan yang mengantre.

Di tengah situasi ini, dukungan publik terhadap langkah pemberantasan mafia solar sebenarnya sangat besar. Salah seorang tokoh masyarakat menyatakan kesiapannya untuk membantu kepolisian membongkar jaringan ini secara terang-benderang.

“Kami siap menyuplai data dan membantu polisi menunjukkan di mana saja titik penimbunan, siapa saja kaki tangannya, hingga aktor intelektual di balik gurita subsidi solar ini. Sekarang bolanya ada di tangan aparat penegak hukum yang baru,” tegasnya.

Menurutnya ketegasan Polres akan menentukan kepercayaan publik pada institusi ini. Apalagi selama ini publik kerapa bertanya setiap kali pergantian jabatan dari level atas sampai bawah tapi urusan Mafia BBM kok tak pernah bisa diselesaikan.

Kini, publik Minahasa Selatan menanti langkah konkret, nyali, dan taji dari Kasatreskrim Polres Minsel yang baru, Iptu Stefi Sumolang. Apalagi eks Kasatrest Polres Sangihe itu merupakan putra asli Minahasa Selatan untuk membersihkan sirkel mafia BBM demi mengembalikan hak masyarakat kecil dan menjaga kondusifitas keamanan di daerah tersebut.

“Setiap kali ada razia pasti tertib. Besoknya atau lusanya diulang lagi. Begitu terus sudah kaya jadi sircle besar,” urai sumber menutup.

Kasatreskrim Polres Minsel Iptu stefi Sumolang saat dikonfirmasi via phone melalui nomor +62 852-4063-0***dalam keadaan tidak aktif. (*)